Kamis, 27 Juni 2013

I Will Be Fine (next story)


Tiara hanya terdiam mendengar pertanyaan sahabatnya itu.
“Emm… gimana kalau aku aja yang mengajaknya!” Ucap Revo semangat
“Ecie Revo” Ucap Angel dan Andini bersamaan
Tiara yang ,melihat hal itu merasa takut apabila sahabatnya meninggalkan dia dan lebih memilih berteman pada Berli.
“Ya udah sana Vo, ajak Berli kesini!” Angel pun mendorong Revo untuk segera bertindak
“Ber….” Ucap Revo lirih
“Iya Vo?” Berli pun memalingkan muka nya
“Ikut main sama kita yuk!” Revo menyiapakan tangannya untuk meggandeng Berli
“Ayuk” Berli beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke tempat mereka tanpa mengacuhkan tangan Revo.
“Huh” Dengus Revo kesal
Berli segera menyilakan kakinya dan ikut bergabung dengan mereka. Melihat itu Tiara berusaha untuk bersikap manis dia hapadan kakaknya, walaupun dia tidak suka kehadirannya. Mereka pun terus tertawa bersama, meskipun demikian Angel merasa ada yang aneh dengan Rara, dia melirik Rara, dan berdehem untuk menghentikan pembicaraan mereka
“Teman-teman, nampaknya ada yang lagi butuh bantuan kita ni!” Angel melirik pada Tiara
“Kenapa Ngel?” Tiara pun langsung salah tingkah.
“Cahaya Tiara Aulia Pratama Aprodite, kamu kenapa?”
“Emm..gak pa-pa. Baiklah teman-teman nampaknya ada sesuatu yang harus aku kerjakan! Aku pergi dulu ya!” Tiara beranjak meninggalkan tempat itu. Namun Revo, Andini, dan Angel tidak hanya tinggal diam mereka berdiri dan mengejar Tiara. Tangan mereka pun bergelayut memegang pundak , sedangkan Tiara dan Andini berdiri di depannya. Tiara hanya terkekeh melihat teman-temannya itu, kemudian dia beranjak pergi meninggalkan mereka bertiga.
                Melihat hal itu Berli merasa tersentuh pada ke tiga orang tadi, rasa persahabatan mereka begitu erat.
                Jarum jam menunjukkan pukul 15.30 dan inilah saatnya para siswa untuk pulang ke rumah masing-masing. Namun ini tidak terjadi pada saudara kembar tersebut. Mereka menunggu jemputan.
“Ra, Kak Aldo tidak pulang sama kita?”
“Gak tahu!” Ucapnya dengan ketus.
Berlian yang mendengar ucapan adiknya itu hanya tersenyum sabar. Tidak lama kemudian muncul mobil yang tidak asing bagi mereka berdua. Melihat kehadiran mobil itu, Rara segera beranjak dan meninggalkan Berlian sendiri disana.
“Ra.. mau kemana?”
“Mau pulang lah! Masak mau tidur disini?”
Sebelum menjawab kata-kata Rara dia menyadari bahwa jemputan sudah datang dan tidak lama kemudia  Berli segera beranjak menyusul Rara. Tangan Rara bergelayut membuka pintu mobil megah tersebut.
Rara mengurungkan niatnya untuk pulang bersama Berlian setelah melihat yang menjemput bukan pak Totok melainkan mamah kandungnya. Secepat kilat dia memutarkan badannya dan beranjak pergi masuk ke sekolah menemui kak Alod
“Loh Ra, mau kemana?” Tanya Berlian heran.
Rara terus berjalan dan berlari menuju ke kelas kak Aldo
Sesampainya di tempat yang dituju dia berlari dan memeluk kakaknya itu.
“Kak Aldo…”
“Iya…” Jawab kaka Aldo yang setengah kaget melihat kedatangan Tiara yang langsung memeluknya.
“Aku pulang sama kakak ya?” Ucap tiara dengan sumringah
“Kenapa? Ada masalah lagi dengan mamah?”
“Enggak kak!” Ucapnya dengan tersenyum
_______SKIP_________
                Sesampainya di rumah Tiara pun melangkahkan kaki nya menuju ke kamar dan saat dia membuka pintu kamarnya dia mendapati sang mamah sedang menanti nya di balkon rumah.
“Mah,….” Panggilnya dengan ragu
“Oh Tiara udah pulang ya? Sini nak, mamah mau minta satu hal lagi sama kamu?”
“Apa itu mah?” Ucap Tiara lirih
“Tolong ya, jauhin Revo, Andini, Angel?”
“Apa Mah?” Tiara pun tersontak kaget mendengar permintaannya itu.
“Ra, ini demi kakak mu Berlian, please mamah mohon!”
“Mamah boleh minta apapun dari Tiara, tapi mamah gak boleh minta sahabata Tiara!” tiara pun beranjak dari balkon kamarnya dan pergi.
                Kak Aldo yang mendengar bentakan Tiara berlari menaiki anak tangga, namun sebelum sampai di kamarnya dia telah melihat Rara berlari menuruni tangga.
“Ra…” Tegur kak Aldo
Namun Rara terus berjalan dan tidak mempedulikan kakaknya itu.
“Ra….. tunggu kakak!” Kak Aldo pun mengikuti Rara dan mengambil kunci mobilnya, dia segera berlari menuju garasi dan bersiap untuk menenangkan adiknya itu. Berli yang melihat kak Aldo begitu  khawatir dan  merasa heran
“Kak Aldo mau kemana?” Tanya Berli
Namun kak Aldo yang sudah dibingungkan dengan Tiara tidak mempedulikan Berli. Saat di depan pintu rumah, kak Aldo memegang pergelangan tangan Tiara dan dia pun spontan memeluknya, pelukan kak Aldo dapat menenangkan hati Tiara yang terbakar emosi menjadi lembut dan ramah.
“Rara, hari ini mau kemana?” Ucap kak Aldo lembut
“Gak tahu kak!”
“Gimana kalau kita ke villa keluarga? Disana ada papah lo?”
“Papah?  ” Ucapnya semangat
“Iya, adikku sayang!” Ucapnya tersenyum
“Ayok kak!” Ucap Tiara dengan girang dan menggelandang kakaknya itu
Dengan seragam yang masih lengkap mereka pun beranjak pergi ke villa keluarga tanpa pemberitahuan mamahnya. Di dalam mobil, dia mengambil buku hariannya dan menuliskan sesuatu. Walaupun buku berwarna ungu tersebut berada di laci mobil kak Aldo, dia tidak pernah mengetahui isi nya.
“Ra, kamu nulis apa?”
“Gak apa-apa kak!” Ucap nya tersenyum.
                Tiara terus menulis buku hariannya tanpa mempedulikan kak Aldo yang sedari tadi menatap nya. Tiba-tiba Tiara merasakan ada sesuatu yang mengalir dari hidungnya, melihat hal itu kak Aldo sangat terkejut dan memberhentikan mobil nya
“Ra, kamu kenapa?” tangan kak Aldo segera bergelayut mencari tisu dan membersihkan darah tersebut. Tangan tiara segera menghentikan tangan kakak nya itu, dipeganglah pergelangan tangannya dan dia pun berbisik pada kakak kesayangannya itu. “Kak Aldo jangan bilang mamah, kak Berli, dan sahabat Rara ya?” Air mata pun spontan menetes dari pelupuk matanya. “Tapi Ra? Kamu harus segera diperiksa!” Dia berusaha melepas kan tangannya dan kembali membersihkan hidung adik nya itu. “Rara sudah diperiksa dan aku sudah tahu penyakit yang ku derita ini” Ucapnya tersenyum disela-sela banjiran air mata nya. “Apa? Kenapa gak bilang kakak dari awal?” Rara hanya tertunduk dan membuang muka dari kakak nya itu. “Ra kenapa?” Suara kak Aldo mulai agak mengeras. “Kak, Tiara sudah mengidap penyakit ini saat SMP, bagaimana Tiara meberi tahu kakak? Kakak aja gak pernah pulang! Dan kakak selalu disibukkan dengan tugas sekolah kakak di luar negeri sana.” “Sekarang kamu jujur sama kakak, kamu sakit apa?” Suara kak Aldo agak lirih. “Kanker otak kak” Ucapnya sedih. “Apa?”  Tangan kak Aldo segera bergelayut memeluk adik nya itu. “Ra, maafin kakak ya, kakak gak pernah perhatian sama kamu!” Ucap kak Aldo dalam kesedihannya. “Kak, Tiara gak pa-pa kok, Tiara baik-baik saja” Ucapnya tersenyum.  “Terus selama ini yang mengobatkan kamu siapa?”. Mendengar itu Tiara terdiam dan menatap pohon-pohon di luar mobil sana. “Ra jawab!” Kak Aldo memegang pundak Tiara. “Revo kak!” Ucapnya lirih. “Revo? Revo yang pernah kakak hajar itu?” Spontan kak Aldo mendongakkan kepala, dan Tiara membalikkan badan menatap kakak nya. “Iya kak, dia sangat baik pada Tiara, walaupun dia pernah kakak hajar, namun dia tidak dendam sama kakak, dan dia yang pertama kali melihat hidung ku berdarah!” Ucap nya tersenyum. “Ya Allah baik banget dia!” Kak Aldo menundukkan kepala kemudian melihat langit-langit mobil. “Kak, mari kita lanjutkan perjalanan!” Ucap Rara  membuyarkan lamunan kakak nya itu. “Oke adik!” Kak Aldo pun segera menghapus air matanya dan menginjak gas mobil tersebut. Dalam hatinya dia berjanji untuk selalu melindungi adik kesayangannya itu.
Sesampainya di villa, Kak Aldo membelai pelan rambut adiknya
“Ra, sudah sampai di villa!”
“Hmm…!” Dia membuka matanya sebentar dan tidur lagi.
“Tiaraaa….!” Panggil kak Aldo pelan
Namun sekali lagi Tiara tidak terbuka matanya.
“Ra… ada Revo!”
“Revo?” Tiara langsung terperanjat kaget dan matanya langsung terbuka lebar..
“Hahahahaha… kalau ada Revo aja langsung bangun!” Ledek kak Aldo
“Apaan sih kak?” ucapnya cemberut.
“Em…. Iya kan kamu suka ama Revo?”
“Hehehe” Tiara hanya tertawa dan beranjak pergi tanpa mempedulikan kakak nya itu
“Ra, Tunggu kakak dong!” Kak Aldo segera keluar dari mobil dan melangkahkan kaki mengejar adik nya itu
                Tiara yang merindukan papahnya segera meletakkan tas dan melangkah ke belakang.
“Pah….” Panggil Tiara
Namun tidak ada jawaban sama sekali.
“Ra… papah mungkin udah berangkat ke rumah sakit” Ucap kak Aldo dari belakang.
“Oh!” Ucapnya singkat dan duduk di kursi ruang tamu.
“Kamu kenapa?” Tanya kak Aldo mendekat ke kursi Tiara
“Gak pa-pa!” Ucapnya cemberut
“Bohong, cerita aja dik!” Kak Aldo pun tersenyum
“Kak, kenapa ya, papah mamah kita tidak pernah punya waktu buat kita?”
“Mereka bekerja buat kita dik!” Dia pun duduk di sebelah adik nya
“Dan kenapa papah mamah lebih sayang Kak Aldo dan Kak Berli daripada Tiara?”
“Huss…. Kamu itu bicara apa?”
“Itu nyata kak!” Tiara pun beranjak pergi meninggalkan kak Aldo
“Ra….” Kak Aldo menggelayutkan tangannya memegang tangan adik nya itu.
Rara melepas genggaman tangan kak Aldo dan beranjak pergi ke ke luar villa. Kak Aldo berlari mengejar adik nya itu dan berusaha menenangkannya. Hanya kak Aldo yan bisa menenangkan gadis itu. Walaupun dia sempat iri kepada kakanya itu, namun kasih sayang kak Aldo bisa meluluhkan hati Tiara.
                Malam pun datang. Tiara yang sedang asik menonton tv tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
“Berlian….!”
Tiara spontan menoleh dan terbangun membalas pelukan dari papah nya itu.
“Papah…. Tiara kangen…!” Dia sama sekali tidak mempedulikan panggilan yang ditujukan padanya tadi.
Kak Aldo yang mendengar teriakan adiknya segera turun ke lantai satu dan melihat apa yang terjadi.
“Tiara? Papah kirain Berlian, kamu kesini sama siapa?” Ucap papahnya
“Sama…” Sebelum Tiara menjawab, terdengar suara kak Aldo
“Papah….” Papah mereka pun spontan menoleh
“Aldo? Ya Allah jagoan papah yang ganteng banget!”
“Idih…. Ganteng?” Ucap Tiara sinis
“Emang ganteng kok!” ucap kak Aldo sembari mengeluarkan lidah.
“Papah kenapa jarang pulang?” Tanya Tiara
“Em.. papah sibuk nak!”
“Berli mana?”
“Berli gak ikut!” Ucap kak Aldo
“Kok gitu? Seharusnya diajak dong! Dan Tiara harusnya kamu kan gak main kesini, biar kamu bisa fokus ke pelajaran mu, kamu harusnya bisa seperti kakak-kakak mu itu, baru kamu boleh kelayapan!” Ucap papahnya.
Mendengar itu semua Tiara hanya tersenyum dan hatinya sungguh hancur. Saat papah nya beranjak meninggalkan mereka, kak Aldo segera memeluk Tiara dan membawanya pergi. Dia tahu bagaimana perasaan adiknya saat ini. Saat sampai di pintu Tiara melepas pelukan kakak nya.
“Kak, biarkan Tiara sendiri!” Dia pergi dan melangkah memasuki mobil. Dinyalakannya mobil tersebut tanpa ragu dia mengemudikan mobil merah milik kakaknya itu kesuatu tempat. Air mata selalu mengalir menemani kesediahan di malam itu, hatinya terasa hancur dan pikirannya kacau, dia berpikir hendak menelpon Revo, tapi takut mengganggu, di tengah-tengan keheningan malam dia teringat danau saat pertama kali dia bertemu Angel dan Revo, tanpa ragu dia pun segera mengendalikan mobilnya kesana. Beberapa saat kemudia, Tiara sampai di tempat yang indah. Disana dia berbaring diatas rumput dan mengingat semua kenangannya. Dulu sebelum dia mengidap kanker otak, Tiara adalah anak terpandai dalam keluarga dokter itu, namun saat gejala-gejala mulai timbul, prestasi nya semakin berkurang, karena saat dipakai belajar kepala dia sangat sakit, dan itu  sangat menyisaknya. Papah mamahnya sama sekali tidak tahu tentang ini semua.
“Pah, Mah, aku ingin pelukan kasih kalian, aku tahu, aku tidak sepintar Kak Berli, aku tidak secerdas kak Aldo, tapi itu semua ada alasannya pah mah!, aku juga ingin pintar seperti mereka, aku sering berusaha membaca buku, namun apa hasilnya? Aku sering muntah darah saat aku belajar, dan kepala ku sangat sakit. ” Ucapnya menitihkan air mata.
                Tiara segera mengambil buku hariannya dan menuliskan semua isi hatinya. Namun tiba-tiba setetes darah mengalir dari hidung nya, Tiara sama sekali tidak mempedulikan itu, karena itu sudah biasa bagi nya. Tiba-tiba hp Tiara pun berdering dan ternyata dia mendapat sms dari Revo. “Ra, kamu dimana? “ “Kenapa?” Jawabnya. “Aku ingin cerita ama kamu!” “Cerita aja” ketik Tiara, “Hari ini aku jadian sama Berli!” Jawab Revo. “Selamat :D” Balas Tiara. “Kok Cuma selamat? Aku ingin ajakin kamu makan!” Balas Revo. Namun Tiara tidak mengacuhkan pesan itu dan berjalan menuju danau. Dia sangat sedih, karena selama ini Revo tidak hanya sahabat terdekatnya namun dia juga orang kedua yang dapat meluluhkan hatinya selain kak Aldo. “Berli, kenapa kau ambil semuanya!” Teriak Tiara dengan keras pada danau itu. Tiara terjatuh dan meneteskan air mata, sedangkan darah terus mengalir dari hidungnya, tiba-tiba pandangannya menjadi kabur, tubuhnya lemah lunglai dan semua menjadi hitam. Revo yang pada saat itu berada di mobil bersama Berli khawatir dengan Tiara, karena Revo merasa ada yang aneh dengan Tiara “Ber, Tiara dimana?” Tanya Revo
“Gak tahu Rev!” Jawabnya
“Bohong!” Suara nya agak keras
“Revo….!”
“Ber, tolong beri tahu aku, dimana dia? Aku khawatir sama dia!”
“Vo, dia tidak bakal kenapa-napa, dia pergi bersama kak Aldo!”
“Hah!” Dengusnya kesal.
Walaupun Tiara bersama kakaknya namun Revo merasa cemas. Dalam dirinya bertanya-tanya keadaan dia sekarang. Sedangkan Berli terserang api cemburu, namun dia tetap tidak boleh berpikiran negatif pada adik kembarnya itu, karena Revo adalah sahabatnya, jadi wajar dia perhatian sama Tiara.
“Ber, lebih baik kamu pulang aja ya! Jalan-jalan hari ini batal!” Ucap Revo sembari memutar setir mobil
Berlian yang mendengar itu tersontak kaget dan menatap Revo
“Kenapa Vo? Apa gara-gara Tiara?”
Revo hanya terdiam dan menyetir mobilnya kencang. Berlian terpukul atas perkataan Revo, dia membuang muka dan tiba-tiba air mata menetes dari kedua kelopak matanya.
“Rev….” Berli berusaha menegur pacar barunya itu, namun tidak terdengar sepatah kata pun dari nya.
“Revo…” Panggilnya agak keras
“Iya Ber?” Jawabnya dengan tetap fokus dalam setirnya
“Vo, rumah kamu kan di dekat villa papah aku, gimana kalau aku kamu anterin disana aja!” Berli mengatakannya penuh kehati-hatian.
“Sebenarnya aku sih gak masalah, tapi mamah kamu gimana?”
“Mamah gak masalah kok, beliau kan udah kenal kamu lama sekali!”
“Iya udah deh, ayo!” Jawabnya
Berli pun tersenyum semangat, dia terus menatap Revo. Begitu keren dan baik, itulah yang dia rasakan. Saat Berli berusaha mengalihkan pandangan dia melihat sepucuk kertas di laci mobil Revo. Tangannya bergelayut membuka laci itu, ditemukannya sepucuk surat yang terbungkus amplop berlebel rumah sakit tempat kerja mamahnya. Dibukanya amplop itu, namun sebelum Berli sempat membaca, Revo secepat kilat menyergap surat itu.
“Itu apa Vo?”
“Gak pa-pa” Ucapnya lirih
“Kamu sakit apa?” Mata Berli menatap Revo tajam
“Aku gak sakit kok sayang! Kamu tenang aja ya!” Ucap Revo membalas tatapan Berli sesaat dan kembali fokus kea rah depan. Namun mendengar pengakuan Revo itu tidak cukup memuaskan rasa penasaran Berli,dia terus memikirkan isi surat itu.
“Sayang, kamu kenapa diam?” Tegur Revo memecah lamunan Berli
“Aku gak percaya jawaban mu tadi, aku percaya kamu menyembunyuikan sesuatu!” Mendengar perkataan pacar baru nya itu, Revo segera menepikan mobilnya dan memeluk Berlian. “Maafkan aku sayang! Tapi itu rahasia, seseorang mempercayai aku buat menjaga surat itu! Ku harap kamu bisa memahaminya” Ucapnya lirih. Berlian menatap Revo lembut, rasa cemas yang menghantui Berli mulai memudar, tanpa ragu dia mulai membalas pelukan pacar baru nya itu.
______SKIP_______
                Tidak beberapa lama kemudian sampailah mobil Revo di villa keluarga Berlian, dibukakannya pintu buat Berli, dia pun segera melangkah menuju villa dan melambaikan tangan buat kekasih barunya itu. Sedangkan Revo yang merasa sangat gelisah memutuskan pergi ke suatu tempat, dimana Revo, Angel, Andini, dan Tiara sering meluangkan waktu bersama disana. Tempatnya tidak jauh dari villa itu. Dia segera menarik gas. Dia berharap di tempat itu dia bisa menenangkan hati dan perasaannya. Tidak lama kemudian sampailah Revo di tempat yang dituju. Diparkirkannya mobil itu, segera Revo beranjak keluar dari mobil, namun tiba-tiba dia melihat sosok gadi berambut panjang terbaring diatas tanah.
“Siapa itu, apa itu hantu? Ah tidak mungkin” Bisiknya dalam hati. Dia membulatkan tekat dan menemui gadis yang terbaring tadi, setelah dilihatnya ternyata dia adalah Tiara yang berlumuran darah.
“Rara….” Badannya terasa sangat lemas saat melihat sahabat terdekatnya terbaring seperti itu. Matanya mulai berkaca-kaca dan diangkatnya gadis itu. Terlintas dipikirannya untuk membawa Tiara ke villa keluarganya, namun dia pernah bilang untuk menyembunyikan tentang penyakitnya itu. Revo segera memutar mobilnya dan beranjak menyetir ke istana pribadi milik orang tuanya.
                Sesampainya di tempat yang dituju, Revo segera membopong sahabatnya itu masuk ke rumah
“Mam…. Mam…” Panggil Revo dari luar rumah. Mamah Revo yang sedang menonton tv segera berlari keluar rumah.
“Iya Vo! loh itu Tiara?” Ucap mama Revo kaget
“Iya, ma, tolong Tiara! Tadi dia pingsan di pinggir danau”
“Ya udah, ayo, kita bawa ke klinik mama!”
Mama Revo adalah seorang dokter juga, dia sahabat dekat papah Tiara, jadi Tiara sudah dianggap anaknya sendiri.
_____SKIP_____
                Jarum jam menunjukkan pukul 23,00 namun Tiara belum pulang juga. Rasa cemas dalam diri kak Aldo semakin menjadi-jadi, segeralah dia beranjak dari kamarnya, kakinya melangkah ke ruang pribadi milik sang papah.
“Tok… Tok…” Tangan kak Aldo bergelayut mengetuk pintu
“Pah, bukakin pintu!”
“Masuk Nak!” Jawabnya yang masih sibuk dengan urusan pekerjaan.
Tanpa basa-basi lagi kak Aldo membuka pintu.
“Pah, aku boleh pinjam mobilnya?”
“Buat apa?” Jawab sang papah yang masih fokus dengan pekerjaannya
“Buat cariin Tiara”
“Tiara kenapa  Do?”
“Dia belum pulang, tadi katanya mau pergi sebentar setelah papah bicara seperti itu”
“Bicara seperti apa Kak?” Sela Berli
Kak Aldo hanya diam mendengar pertanyaan adiknya itu sedangkan papah mereka tidak mengacuhkan Berlian
“Apa? Kok bisa?” Papah pun tersontak kaget dan menoleh ke Aldo
“Bisa lah Pah” Jawabnya pedas
Tidak menunggu lama papah mereka segera beranjak meninggalkan semua pekerjaannya.
“Aldo, Berli, ayo ikut papah mencari Tiara!” Kaki nya terlangkahkan keluar kamar menuju garasi
 Mereka mencari keberadaan Tiara, namun sampai tengah malam hasil yang didapat nihil kak Aldo sangat khawatir, dia senantiasa berdoa kepada Allah atas keselamatan adik nya. Mereka berdua terus menusuri jalan mencari Tiara. Malam semakin lama semakin larut, namun Tiara juga belum ditemukan.
“brother, where’s Tiara? Why is she so suck?”
 “Shut up sist!” Wajahnya berubah menjadi serius dan melotot pada Berlian
“Sudah diam, jangan berantem lagi! Lebih baik kita pulang saja dulu, kita cari besok saja” Ucap papahnya.
“Besok? Gak mungkin papah punya waktu buat Tiara! Papah kan hanya peduli pekerjaan! Iya kan Pah?” Wajah kak Aldo berubah menjadi merah, matanya mulai berkaca-kaca menatap ayahnya.
“Gara-gara  papah juga kan Tiara kabur?” Dia pun mulai membuang muka dan melihat luar mencari adiknya itu.
“Aldo… Jaga omongan mu”
“Papah tu yang harus jaga omongan papah! Papah tahu tidak dia datang ke villa buat nenangin diri, karena mamah yang selalu beda-bedain, dan sekarang setelah sampai di villa papah juga melakukan hal yang sama kepada dia! Dimana perasaan papah? Dan asal papah tahu Tiara itu sakit….” Suara kak Aldo terputus teringat ucapan adiknya untuk menyembunyikan penyakitnya itu.
“Sakit apa Aldo? Jawab?” Papah mereka pun segera menepikan mobil mereka dan memaksa Aldo buat bicara.
“Papah, gak berhak tahu!” Ucapnya sinis
“Kak Aldo…. Kita berhak tahu dong, kita keluarga dia!” Berlian berusaha meredamkan suasana yang terjadi di mobil itu
“Keluarga? Itu buat mu Ber, tapi buat Tiara itu gak, pernahkah kamu melihat mamah membelikan paspor buat Tiara? Gak pernah kan?” Air mata kak Aldo sudah tidak bisa dibendung lagi
“Itu karena…..!” Dia tidak dapat melanjutkan pembicaraan
“Itu karena, papah dan mamah tidak pernah ada buat kami, dan yang dipikiran papah mamah anak-anak yang pintarlah yang berhak mendapat perhatian papah dan mamah!”
“Sudahlah percuma kita berdebat, lebih baik kita pulang dan mencarinya besok!” Ayah mereka pun memutar mobil. Saat melewati danau Aldo melihat mobilnya terparkir disana.
“Pah, itu mobil Aldo!” Tunjuknya pada mobil ditepi danau
“Mana kak?” Berli pun ikut menatap danau tersebut
“Pah, Tiara ada disana!” Ucapnya semangat.
Papah mereka pun memainkan stir mobil dan memarkirakan di tepi danau tersebut.
“Tiara…” Panggil kak Aldo, namun tidak ada balasan sama sekali.
Berkali-kali Berli, papah mereka, dan kak Aldo memanggil, namun hasilnya nol. Tidak ada jawaban sama sekali.
“Argh… kamu dimana Ra?” Ucap kak Aldo kesal.
Sementara sang papah menemukan sebercak darah di rerumputan.
“Darah apa itu?” Hati papah mereka bertanya. Diambilnya sempel rumput tersebut dan ditunjukkan pada Berli dan Aldo.
“Aldo, Berli….. ada darah disini!”
“Apa pah?” Berli pun terkejut dan segera berlari, sedangkan kak Aldo semakin khawatir pada Tiara, tubuhnya menjadi lemas dan bumi memanggil kakinya.
“Apa tadi Tiara mengeluarkan darah?” Tanyanya dalam diri
“Aldo, mari kita pulang, besok kita cari sama-sama lagi, papah besok akan bolos buat Tiara!”
“Pah, tapi Tiara belum ketemu!” Air menetes dari mata indah kak Aldo
“Besok kita cari lagi, papah janji nak!”
“Bagaiaman papah bisa mengajak kita pulang sementara adik kita belum ditemukan?” bentak Berli yang sedari tadi memperhatikan bercak darah tersebut.
“Tapi Ber, ini sudah malam! Kalian harus istirahat!”
“Tidak, Pah!” Tangan Berli terkepal dia pun menatap tajam sang papah
Papah mereka hanya terdiam melihat tingkah laku kedua anaknya, dia cukup terkejut, ternyata di balik sikap tidak acuh Aldo dan Berli, mereka sangat sayang pada Tiara. Dia merasa sangat bersalah pada ketiga anaknya, rasa sayang dan perhatian jarang ditunjukkan pada mereka. Bekerja bekerja dan bekerja itulah yang sering dilakukan kedua orang tua mereka. Namun tiba-tiba Kak Aldo beranjak dari tempatnya, matanya tertuju pada sosok lelaki paru baya yang dipanggilnya papah.
“Papah, kalau andaikan papah ingin pulang, silahkan papah pulang! Biarkan aku dan Berli yang mencari Rara sendiri!” Dia segera melangkahkan kaki ke arah Berli.
“Ya sudah terserah kalian saja!” Papah mereka berjalan membalikkan badan menuju mobil mewah yang terparkir di tepi danau, beliau pun pergi meninggalkan tempat itu, namun tidak jauh daru tempat itu, kakinya bergelayut menginjak rem, rupanya dia hendak membuntuti Aldo dan Berli. Walau pun nampak cuek kepada anak-anaknya, sebenarnya papah mereka sangat menyayanginya.
                Sementara itu di tepi danau Berli dan Aldo sudah berada di kendaraan pribadi milik Aldo. Berli berusaha tidak melihatkan rasa sedihnya di depan kakaknya itu, dia terus menghilangkan tetesan air matanya itu.
“Kamu kenapa terus menyeka air mata mu itu?” Kak Aldo yang melihat gerak-gerik Berlian pun terkekeh
“Air mata? Gak mungkin lah Kak!, by the way, kita mau cari Tiara kemana?” mulutnya tersungging kaku tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal
“Kakak juga gak tahu!” Mata kak Aldo melepas pandangan pada Berli dan menatap lurus ke depan
“Gimana kalau…!”
“Aha… Kakak tahu dia dimana Ber! Tapi kamu harus pulang dulu, jangan ikut kakak!” Sela kak Aldo yang tiba-tiba mendapat pencerahan.
“Loh kak, gak bisa gitu dong, dia kan juga adik aku!” Spontan Berli langsung menoleh ke arah kak Aldo
“Ya udah, ayo kita ke rumah Revo!” Kaki kak Aldo segera menginjak gas dan mereka pun menuju rumah Revo
“Revo? Apa hubungannya dengan Revo?” Mata Berli melotot ke arah kakaknya itu
“Hehehe…. Kamu kepo deh manis!” goda kak Aldo di sela-sela matanya yang fokus ke depan.
“Ih, apaan sih kak!” Berli membuang muka.
                Sejenak suasana dalam mobil menjadi hening, Berli yang sedari tadi berjuang melawan tarikan mata akhirnya menyerah,dia terlelap dalam sekejap mata, namun itu berbeda dengan kak Aldo yang sangat menyayangi adik-adiknya itu, walaupun mengantuk namun dia akan tetap berjuang untuk adiknya. Mobil Aldo terhenti pada halaman rumah sederhana milik seorang dokter, tangannya bergelayut memegang pundak gadis manis di sampingnya, namun mata gadis tersebut tidak kunjung terbuka. Tidak tega mengganggu adiknya itu, Aldo pun segera turun dari mobil dan mengetuk rumah sederhana tersebut.
“Tok… tok…”
“Iya tunggu sebentar!” Jawab seseorang yang suaranya tidak asing buat Aldo
Tidak menunggu lama, pintu di depannya itu mulai dibuka oleh seorang pemuda tampan berambut agak pirang dengan pipi kemerah-merahan.
“Aldo, mari masuk! Pasti mencari Tiara ya?” Ucap nya ramah.
“Iya Jo!” dia pun berjalan masuk badannya tertunduk dan matanya menghadapke bawah
“Kak, siapa?” Tanya seseorang dari dalam
“Aldo, Rev!” Jawab pemuda tampan tersebut yang dipanggil kakak
Alis Revo terkerut, tangannya mengepal di pipi, matanya menghadap ke atas.
“Bagaimana mungkin kak Aldo tahu, Rara disini? Waduh, bisa gawat ini, apalagi kalau ada Berlian! Gak tau ah! Berli tahu juga gak masalah!” Revo mulai beranjak melangkah menuju ruang tamu. Segera lah ditemui kakak sahabatnya itu.
“Kak Aldo! Ngapain kesini?”  Tanya Revo heran
“Ngapain heran begitu? Biasa aja kali, aku nyari adikku, pasti disini kan?”
“Kak, lebih baik kakak ke belakang aja ya! Kita butuh sedikt privasi!” Ucap Revo lirih pada kakak kandungnya itu
“Em… kok tahu Rara disini?”
“Tahu lah, dia pernah bilang kalau hanya kamu yang tahu dia menderita kanker otak!”
“Oh… Akhirnya ada juga saudaranya yang peduli sama dia!” Revo pun melirik pemuda tampan disebelahnya
“Makhsudmu apa?” Nada kak Aldo agak tinggi.
“Rev, itu siapa?” Ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah
“Tiara…..” Panggil kak Aldo dan berlari memeluk adiknya itu.
“Kak Aldo..!” Tiara membalas pelukan sayang dari sang kakak.
                Ternyata Tiara terbangun mendengar suara kakak kesayangannya itu, perasaan Aldo yang remuk redam menjadi tenang saat melihat adiknya baik-baik saja walaupun dengan wajah yang pucat. Tiara tersenyum dalam pelukan kakaknya, tanpa ragu dia membalas pelukan kakak kesayangannya itu, namun ukiran senyum di bibir Tiara adalah senyum palsu, sebenarnya kepala nya terasa ditusuk ribuan paku.
“Ra… kamu gak ngeluarin darah lagi kan?” Bisik kak Aldo ditelinga adiknya itu
“Masih lah kak, aku kan wanita, jadi wajar!” Ucapnya cengengesasan
“Apaan sih? Gak lucu tau!” Aldo memajukan mulutnya, dia kesal mendengar jawaban adiknya itu.
“Kak, Aldo gak usah khawatir ya!  Rara baik-baik saja!” Ucapnya yang masih dalam dekapan pemuda yang dipanggilnya kakak.
“Ra… kenapa kamu lebih terbuka ke Revo daripada kakak mu sendir?” Tangannya bergelayut menarik pundak adiknya itu, matanya terpaku menatap mata Rara.
Tiara yang ditatap kakak nya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
“I’ll be fine my Brother!”
“Promise?”
“Yes!”
Tangan kak Aldo bergelayut memeluk gadis yang dipanggilnya Tiara, diucapkannya janji dalam dirinya akan selalu menjaga adik nya itu.
                Dekapan kak Aldo mulai terlepas dari Tiara, dia meminta maaf pada Revo atas perbuatannya selama ini yang tidak sopan padanya.
“Rev, aku minta maaf ya!”
“Maaf? Buat apa?” Revo membulatkan matanya
“Aku selama ini gak berkelakuan baik sama kamu!”
“Oh itu, santai aja kak!”
“Makasih ya, tadi udah ngrawat Rara!”
Revo mendengar itu tertegun dan melirik Tiara, begitupun dengan gadis itu, Tiara bingung darimana pemuda yang dipanggilnya kak Aldo bisa tahu.
“Revo…” Panggil kak Aldo yang memecahkan tukar pandang antara mereka berdua.
“Oh, iya kak! Gak pa-pa! hehehehe”
“Ayo Ra pulang!” Ajaknya pada gadis tersebut.
“Ayo kak!”
Tangan Aldo bergelayut memegang pergelangan tangan Tiara, sementara itu Tiara memandangi Aldo. “Kak, gendong!” Ucapnya manja. “Apa? gendong? Kan udah besar, kaki mu juga masih lengkap!” jawab kak Aldo cuek. “Ya udah kalo gak mau, aku gak mau pulang, aku mau bersama Revo aja!” Badan Tiara segera berbalik, namun sebelum Rara melangkahkan kaki, tangan kak Aldo melingkar pada tubuh adik kesayangannya dan dia mulai menggendong Rara. Rara terkekekh melihat respon kakaknya itu.
                Dalam benaknya dia merasa senang namun juga takut kak Aldo akan menyemburnya karena telah meninggalkan mobil kesayangan kakaknya  di tepi danau. Bola matanya terus berputar mencari jawaban yang tepat saat kakak kesayangannya tanya
“Ra, kenapa cemas begitu?” Tegur kak Aldo.
“Enggak kok, Kak, aku minta maaf ya, meninggalkan mobil mu di tepi danau!”
“Iya, gak pa-pa! Kakak paham kok, pasti tadi kamu pingsan lagi. Iya kan?”
“Loh, kok tahu?” Mata Tiara langsung membulat dan mendekat kearah kak Aldo
“Tadi ada bercak darah di rerumputan! Kalau kamu gak pingsan,gak mungkin lah, bercak darahnya sampai di tanah!”
“Kak Aldo!” Mendengar penjelasannya Tiara tersenyum, sejenak dia teringat ucapan mamahnya yang selalu membangga-bangga kan kakaknya itu.
“Ra, lebih baik kamu tidur dulu!” Ucap kak Aldo membuyarkan lamunan Rara
“Sip kak!” Sedikit demi sedikit matanya mulai terpejam dan dia pergi ke dunia mimipi.
                Keesokan harinya, sang mentari terbangun dari tidurnya, alam semesta yang indah, embun pagi yang segar, dan hangatnya sinar sang surya menemani ketiga saudara yang sedang asik berkumpul di ruang keluarga. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Berlian segera beranjak dari tempatnya dan melangkah membukakan pintu. Dia cukup terkejut, karena Revo pagi-pagi sekali sudah menghampirinya.
“Revo..!” Mata indahnya yang masih tampak sipit dalam hitungan detik berbinar setelah melihat pemuda di depanya itu
“Sayang, Rara ada?” Mata Revo menjelajahi seisi rumah gadis itu mencari sosok gadis yang disayanginya.
“Em…. Ada kok” jawabnya lirih
Tanpa mempersilahkan masuk, Berli langsung memutarkan badan dan melangkah pergi. Revo sama sekali tidak menyadari kepergiannya. Sampai beberapa menit dia baru menyadari Berli sudah pergi dari tempatnya beranjak sekarang.
“Loh, Berli kemana?”
Tanpa ragu-ragu Revo melangkah masuk dan matanya berkelana memandangi seisisi villa itu. Sedari tadi gadis yang bernama Tiara tidak tertangkap dalam penglihatannya. Langkah Revo terhenti saat melihat sebuah foto keluarga, matanya tertuju pada gadis kembar yang sangat dia kenal.
“Berli, Tiara, kalian cantik sekali!” Ucapnya lirih
Di sisi lainTiara yang merasa penat berada di ruang keluarga berniat untuk mencari udara segar, tanpa minta persetujuan kedua kakaknya dia melangkah ke ruang depan. Namun saat dalam perjalanan, dia menangkap sosok pemuda tinggi, berkulit putih.
“Hei, kamu siapa?” Ucapnya dari kejauhan
“Hei!” Revo yang mendengar suara itu terkejut, dia spontan langsung menoleh
Tiara yang langsung mengenal pemuda tersebut berjalan mendekatinya.
“Revo,,, aku kira kamu bohong bakal datang kesini! Kok kamu gak sms aku?” Tiara sangat girang bertemu sosok Revo di pagi hari.
“Loh, Berlian gak bilang?”
“Gak tu, kak Berli gak bilang!” Rara terlihat agak kecewa pada saudara kembarnya itu.
“Udah dong! Jangan cemberut, nanti tambah jelek lo!”
“Apa lo? Ya udah aku ke atas dulu ya! Kamu tunggu di ruang tamu aja !”
“Masak sih, aku harus di ruang tamu? Aku kan sahabat mu Ra?”
“Terus mau nya kemana?”
“Ke hati mu!” Revo hanya cengengesan menatap Tiara
“Hati ku gak muat buat orang segedhe kamu! Ya udah sana ke ruang keluarga! Disana ada kedua kakak ku!”
“Tapi dimana?”
“Itu tu, kamu jalan kesana, kemudian belok kiri!” Tangan Tiara pun menunjuk arah yang dimaksudkan.
                Revo mengikuti petunjuk Tiara, akhirnya pun dia sampai di ruang keluarga melihat kak Aldo dan Berli yang sedang asik bercanda sembari menonton film kesukaan mereka.
“Pagi my princess dan kak Aldo!” Revo berjalan mendekat
“Oh, Revo, mencari Berli apa Tiara?” Tangan kak Aldo agak menyenggol adiknya yang bernama Berli
Sedangkan Berli terlihat sangat sebal pada pacarnya itu, dia beranjak pergi, namun Revo segera mengejar.
“Ber, kamu kenapa?”
“Gak apa-apa!” Dia pun membuang muka dan melanjutkan langkahnya, namun tangan Revo segera sigap menangkap nya
“Ber, jawab, aku bukan peramal yang bisa melihat isi hati mu! Aku salah apa sama kamu?” Dia menarik tangan Berli.
“Revo! Lepasin tangan aku, ini sakit tau!”
“Ber, tolong! Kamu kenapa? Kasih tau aku!”
“Oke, aku akan kasih tahu, aku cemburu Vo! Dulu semua orang peduli sama aku, tapi sekarang? Tidak Vo! Kamu dan kak Aldo lebih sayang ke Tiara!” Air mata mengalir di sela-sela wajah cantiknya.
“Berli, dia itu sahabat aku, harusnya kamu paham!” Revo berusaha menenangkan pacarnya itu.
“Dan aku pacar mu!” Ucapnya keras dan melepas tangan kekasihnya itu.
“Berli!” Revo mengejar Berli yang terpukul hatinya.
Tanpa mereka sadari Tiara mendengarkan pembicaraan, dia sangat sedih mendengarkannya. Kak Aldo melihat Tiara yang menyeka air mata memahami apa yang tengah dirasakan adiknya itu. Memang dari dulu Berli selalu berusaha lebih unggul dari Tiara. Tangan kak Aldo bergelayut menumpang sejenak di punggung adiknya itu. Rara yang sama sekali tidak menyadari kehadiran kakaknya itu terperanjat dan membalikkan badan untuk melihat pemilik tangan tersebu.
“Kak Al…!”
“Husst.. gak jadi pergi sama Revo?”
“Heheheheh, lebih baik enggak kak!”
“Kalau enggak ya udah! Mari ikut kakak!”
“Kemana kak?”
“Udah lah ikut aja!”
Kak Aldo menarik tangan Tiara. Sedangkan tiara hanya pasrah menghadapi kakak nya itu
                Kakak Tiara membawanya ke depan rumah, dan ternyata disana terdapat Angel dan Andini.
“Angel! Andini!” Rara berlari memeluk kedua sahabatnya itu.
“Rara..!” Angel dan Andini membalas pelukannya.
“Loh, kalian datang bersama Revo?” Tangan Rara mulai berhenti memeluk mereka berdua.
“Iya, tapi dia tadi yang masuk duluan buat mencari kamu!”
“Eh.. tadi dia malah ketemu pacarnya, dan berantem deh mereka!” sambung Tiara
“Ha? Iya kah? Wah bahan baru ni Din!” Senggol Angel pada Andini
“Apaan sih Ngel?” Ucap Andini nyengir.
“Eits…. Ingat janji kita, gak bakalan menyakiti sahabat, menghianati sahabat, dan akan bersama selamanya!” Ucap Rara
“Iya deh, iya deh! Jadi kita menunggu Revo?”
“Iya dong!” Jawab Andhini semangat
“Gak usah ditunggu guys, Revo sudah disini!” Ucapnya cengar-cengir sembari menggandeng gadis cantik yang bernama Berlian itu.
Setelah semuanya sudah lengkap, mereka pun berangkat ke tempat yang dituju. Di dalam perjalanan Tiara, Angel, dan Andini berada di kursi belakang. Rupanya mereka sedang asik bercanda. Tiba-tiba hidung Rara terasa sangat lembab, dia segera mengambil tisu dari tasnya, namun tisu yang selalu menemaninya tertinggal di kamar. Dia pun segera mengelap darah itu, namun itu begitu banyak. Angel yang tidak sengaja menoleh ke arah Rara terkejut melihat darah itu.
“Ra…. Kamu kenapa?”
Seisi mobil terkejut mendengar teriakan Angel, Revo yang menyetir spontan memberikan tisu ke Angel!
“Angel sakit!” Ucap Rara lirih
“Vo, cepat ke rumah sakit!” Andini berteriak kea rah Revo.
“Ber, cepat telepon kak Aldo!” Revo berteriak ke kekasihnya itu.
“Iya-iya Vo!” Berli yang gugup tidak mampu berbuat apa-apa
Penglihatan Tiara semakin lama semakin kabur, dunia berubah menjadi gelap seketika, terdengar dari telinganya suara jeritan kedua sahabatnya itu.
                Beberapa jam kemudian mata Tiara terbuka, terlihat semua sahabatnya, kak Aldo, dan kak Berli berdiri mengelilinginya. Dia merasa senang, namun ada sesuatu yang kurang. Mamah dan papah yang sangat dia sayangi tidak kunjung menampakkan diri.
“Kalian semua masih disini?” Ucap Tiara tersenyum
“Bagus ya kamu Ra! Sok kuat dihadapan aku dan Angel, padahal kamu sakit! Kita berhak tau Ra!” Ucap Andini diiringi butiran mutiara terjatuh dari kedua matanya.
“Sahabat mu bukan hanya Revo!” Ucap Angel kesal, namun air mata menemani wajah cantiknya
“Maafkan aku Angel, Dini!” Tiara mengembangkan senyuman di wajahnya
“Ra, kamu harus cepat-cepat di kemoterapi! Kalau tidak nyawa mu bisa terancam!” Ucap kak Aldo
Mendengar itu, Tiara hanya bisa tersenyum pasrah.
“Kenapa senyum?” Celetuk Revo
“Aku tahu Vo, saat seperti ini pasti datang, walaupun aku sudah bersikeras menyembunyikan penyakit ini, pasti semuanya akan terbongkar. Dan pasti kalian menyuruh ku untuk kemoterapi”
“Rara…..” Ucap Angel lirih
Angel, Andini, dan Revo memeluk Tiara, mereka seperti tidak mau kehilangan sosok sahabat seperti Tiara.
                Hari ketiga Tiara dirawat di rumah sakit dan ini adalah hari dimana Tiara menjalankan kemoterapi. Selama tiga hari ini papah dan mamahnya belum meluangkan waktu untuk menjenguknya, hanya kak Aldo dan Berli yang menemaninya di rumah sakit
“Ra, kakak punya kabar baik” Ucap kak Aldo
“Apa kak?” Tiara penasaran dengan kabar itu
“Em… mamah akan pulang dari tugasnya di Jerman dan dia akan langsung menjenguk kamu!” Jawab kak Aldo semangat
“Kak, tapi mamah tahu dari mana?”
“Dari aku Ra..!” Sela Berli yang tiba-tiba mendekat kea rah Tiara
“Terimakasih Kak!”
Tangan Tiara bergelayut memeluk lingkaran pinggang kakak yang dipanggil Berli tersebut.
                Keesokan harinya sebelum mama Tiara sampai kondisi nya sangat lemah, namun dia berusaha untuk membuka matanya, dia berusaha untuk tidak lemah walaupun penyakit nya sudah meracuni dirinya. Saat- saat seperti ini Revo, Angel, dan Andini datang ,menjenguk sahabatnya itu. Namun saat Jarum lingkaran waktu menunjuk angka 09.00 pagi, mata Tiara sedikit demi sedikit terpejam. Dia merasa sangat nyaman dalam tidur itu, rasa sekit kepala yang terus mengganggu dirinya tiba-tiba menghilang, terdengar suara teriakan dan tangisan di sekeliling dirinya. Dia merasa sangat heran dengan situasi ini, dalam tidurnya Tiara sangat bahagia, namun kenapa orang-orang di sekeliling nya menangis.  Dalam pendengarannya yang masih jelas, dia mendengra suara tangisan Berlian, kak Aldo, Revo, Angel, dan Andini. Dan yang paling membuat Tiara terkejut adalah suara tangisan mamah dan papahnya.rasanya dia sangat ingin membuka matanya, namun sayang dia sudah sangat menyukai dirinya yang sekarang.
                Beberapa hari kemudian setelah pemakaman Tiara, Aldo memberikan sepucuk surat yang pernah Tiara goreskan kepada sahabatnya di danau tempt favorit mereka
Dear Revo, Andini, dan Angel
                Maaf kan Aku ya, aku tidak pernah bilang tentang penyakit ku ini, namun aku hanya ingin kalian tidak sedih memandang aku, aku takut kalian meninggalkan aku apabila kalian tahu aku pengidap penyakit kanker otak.
                Aku sangat berterimakasih pada Revo, karena dialah yang memergoki ku pertama kali saat hidung ku berdrah, dan berkat orang tua nya aku masih bisa bertahan sampai sekarang ini. mungkin saat kalian menerima surat ini aku telah tiada, namun ketahuilah teman, aku sangat ,sayang sama kalian. Tolong jangan berfikir aku lebih sayang sama Revo daripada Angel dan Andini, itu semua salah. Memang aku dulu sempat jatuh cinta pada Revo, namun itu dulu, sebelum aku terkena penyakit ini.Sekarang aku sadar aku tidak pantas menyukai Revo, karena dia telah mempunyai kak Berlian.
                Sekian Surat dari saya, I love you my best friends
Love

Cahaya Mutiara Aulia Pratama Approdite
Membaca surat itu, Revo, Angel, dan Andini menangis. Tangan Andini bergelayut memeluk Angel, sedangkan revo diam terpaku menatap langit, butiran air menetes dari kedua matanya.
“Ra, kita tidak akan melupakan kamu, karena kamu bagai mutiara dalam hidup kami!” Ucap Revo lirih dalam sela-sela tangisnya
Mendengar ucapan Revo, Andini melepas pelukannya.
“Tiara adalah satu dalam diri kita, kita adalah jerami tersulam menjadi tikar. Dimana kita selalu bersama walaupun banyak masalah dalam hidup kita” Andini mulai dapat menyeka air mata.
Mendengar perkataan itu Angel memeluk kedua sahabatnya dengan erat
“I love you my best friends!”
                Disisi lain, kak Aldo memberikan sebuah buku harian berwarna ungu pada Mamah, Berlain, dan Papah. Mamah mereka sangat merasa bodoh, karena dia tidak bisa mengenali penyakit yang diderita oleh anaknya sendiri, begitupun juga dengan papah mereka, yang tidak pernah mendengarkan Tiara. Mereka hanya berpikir Tiara adalah anak yang malas belajar. Sebenarnya dia sangat ingin mendapat perhatian kedua orang tuanya seperti Berlian dan Kak Aldo. Setiap malam dia selalu belajar, meskipun seperti ada jutaan paku di kepalanya. Namun Tiara juga bukan seorang wonder woman, dia juga bisa menyerah saat menahan rasa sakit itu. Itulah yang menyebabkan dia selalu menjadi terbawah di kelasnya.
Tiara anakku kau adalah, Cahaya Mutiara ku, maafkan mamah ya! Semoga kau tenang di alam sana!” Ucap mamahnya sembari memeluk buku berwarna ungu itu. Mutiara keluar dari kedua mata Berlian, tangannya pun bergelayut memeluk wanita cantik yang dipanggil mamah tersebut. Sedangkan sang papah diam terpaku menatap pintu mengingat saat dia menjadi peri kecil pengisi hari-hari sepi sang papah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar