Tiara hanya terdiam mendengar pertanyaan sahabatnya itu.
“Emm… gimana kalau aku aja yang mengajaknya!” Ucap Revo
semangat
“Ecie Revo” Ucap Angel dan Andini bersamaan
Tiara yang ,melihat hal itu merasa takut apabila sahabatnya
meninggalkan dia dan lebih memilih berteman pada Berli.
“Ya udah sana Vo, ajak Berli kesini!” Angel pun mendorong
Revo untuk segera bertindak
“Ber….” Ucap Revo lirih
“Iya Vo?” Berli pun memalingkan muka nya
“Ikut main sama kita yuk!” Revo menyiapakan tangannya untuk
meggandeng Berli
“Ayuk” Berli beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke
tempat mereka tanpa mengacuhkan tangan Revo.
“Huh” Dengus Revo kesal
Berli segera menyilakan kakinya dan ikut bergabung dengan
mereka. Melihat itu Tiara berusaha untuk bersikap manis dia hapadan kakaknya,
walaupun dia tidak suka kehadirannya. Mereka pun terus tertawa bersama,
meskipun demikian Angel merasa ada yang aneh dengan Rara, dia melirik Rara, dan
berdehem untuk menghentikan pembicaraan mereka
“Teman-teman, nampaknya ada yang lagi butuh bantuan kita
ni!” Angel melirik pada Tiara
“Kenapa Ngel?” Tiara pun langsung salah tingkah.
“Cahaya Tiara Aulia Pratama Aprodite, kamu kenapa?”
“Emm..gak pa-pa. Baiklah teman-teman nampaknya ada sesuatu
yang harus aku kerjakan! Aku pergi dulu ya!” Tiara beranjak meninggalkan tempat
itu. Namun Revo, Andini, dan Angel tidak hanya tinggal diam mereka berdiri dan
mengejar Tiara. Tangan mereka pun bergelayut memegang pundak , sedangkan Tiara
dan Andini berdiri di depannya. Tiara hanya terkekeh melihat teman-temannya itu,
kemudian dia beranjak pergi meninggalkan mereka bertiga.
Melihat
hal itu Berli merasa tersentuh pada ke tiga orang tadi, rasa persahabatan
mereka begitu erat.
Jarum
jam menunjukkan pukul 15.30 dan inilah saatnya para siswa untuk pulang ke rumah
masing-masing. Namun ini tidak terjadi pada saudara kembar tersebut. Mereka
menunggu jemputan.
“Ra, Kak Aldo tidak pulang sama kita?”
“Gak tahu!” Ucapnya dengan ketus.
Berlian yang mendengar ucapan adiknya itu hanya tersenyum
sabar. Tidak lama kemudian muncul mobil yang tidak asing bagi mereka berdua.
Melihat kehadiran mobil itu, Rara segera beranjak dan meninggalkan Berlian
sendiri disana.
“Ra.. mau kemana?”
“Mau pulang lah! Masak mau tidur disini?”
Sebelum menjawab kata-kata Rara dia menyadari bahwa jemputan
sudah datang dan tidak lama kemudia Berli
segera beranjak menyusul Rara. Tangan Rara bergelayut membuka pintu mobil megah
tersebut.
Rara mengurungkan niatnya untuk pulang bersama Berlian
setelah melihat yang menjemput bukan pak Totok melainkan mamah kandungnya.
Secepat kilat dia memutarkan badannya dan beranjak pergi masuk ke sekolah
menemui kak Alod
“Loh Ra, mau kemana?” Tanya Berlian heran.
Rara terus berjalan dan berlari menuju ke kelas kak Aldo
Sesampainya di tempat yang dituju dia berlari dan memeluk
kakaknya itu.
“Kak Aldo…”
“Iya…” Jawab kaka Aldo yang setengah kaget melihat
kedatangan Tiara yang langsung memeluknya.
“Aku pulang sama kakak ya?” Ucap tiara dengan sumringah
“Kenapa? Ada masalah lagi dengan mamah?”
“Enggak kak!” Ucapnya dengan tersenyum
_______SKIP_________
Sesampainya
di rumah Tiara pun melangkahkan kaki nya menuju ke kamar dan saat dia membuka
pintu kamarnya dia mendapati sang mamah sedang menanti nya di balkon rumah.
“Mah,….” Panggilnya dengan ragu
“Oh Tiara udah pulang ya? Sini nak, mamah mau minta satu hal
lagi sama kamu?”
“Apa itu mah?” Ucap Tiara lirih
“Tolong ya, jauhin Revo, Andini, Angel?”
“Apa Mah?” Tiara pun tersontak kaget mendengar permintaannya
itu.
“Ra, ini demi kakak mu Berlian, please mamah mohon!”
“Mamah boleh minta apapun dari Tiara, tapi mamah gak boleh
minta sahabata Tiara!” tiara pun beranjak dari balkon kamarnya dan pergi.
Kak
Aldo yang mendengar bentakan Tiara berlari menaiki anak tangga, namun sebelum
sampai di kamarnya dia telah melihat Rara berlari menuruni tangga.
“Ra…” Tegur kak Aldo
Namun Rara terus berjalan dan tidak mempedulikan kakaknya
itu.
“Ra….. tunggu kakak!” Kak Aldo pun mengikuti Rara dan
mengambil kunci mobilnya, dia segera berlari menuju garasi dan bersiap untuk
menenangkan adiknya itu. Berli yang melihat kak Aldo begitu khawatir dan
merasa heran
“Kak Aldo mau kemana?” Tanya Berli
Namun kak Aldo yang sudah dibingungkan dengan Tiara tidak
mempedulikan Berli. Saat di depan pintu rumah, kak Aldo memegang pergelangan
tangan Tiara dan dia pun spontan memeluknya, pelukan kak Aldo dapat menenangkan
hati Tiara yang terbakar emosi menjadi lembut dan ramah.
“Rara, hari ini mau kemana?” Ucap kak Aldo lembut
“Gak tahu kak!”
“Gimana kalau kita ke villa keluarga? Disana ada papah lo?”
“Papah? ” Ucapnya
semangat
“Iya, adikku sayang!” Ucapnya tersenyum
“Ayok kak!” Ucap Tiara dengan girang dan menggelandang
kakaknya itu
Dengan seragam yang masih lengkap mereka pun beranjak pergi
ke villa keluarga tanpa pemberitahuan mamahnya. Di dalam mobil, dia mengambil
buku hariannya dan menuliskan sesuatu. Walaupun buku berwarna ungu tersebut
berada di laci mobil kak Aldo, dia tidak pernah mengetahui isi nya.
“Ra, kamu nulis apa?”
“Gak apa-apa kak!” Ucap nya tersenyum.
Tiara
terus menulis buku hariannya tanpa mempedulikan kak Aldo yang sedari tadi menatap
nya. Tiba-tiba Tiara merasakan ada sesuatu yang mengalir dari hidungnya,
melihat hal itu kak Aldo sangat terkejut dan memberhentikan mobil nya
“Ra, kamu kenapa?” tangan kak
Aldo segera bergelayut mencari tisu dan membersihkan darah tersebut. Tangan tiara
segera menghentikan tangan kakak nya itu, dipeganglah pergelangan tangannya dan
dia pun berbisik pada kakak kesayangannya itu. “Kak Aldo jangan bilang mamah,
kak Berli, dan sahabat Rara ya?” Air mata pun spontan menetes dari pelupuk
matanya. “Tapi Ra? Kamu harus segera diperiksa!” Dia berusaha melepas kan
tangannya dan kembali membersihkan hidung adik nya itu. “Rara sudah diperiksa
dan aku sudah tahu penyakit yang ku derita ini” Ucapnya tersenyum disela-sela
banjiran air mata nya. “Apa? Kenapa gak bilang kakak dari awal?” Rara hanya
tertunduk dan membuang muka dari kakak nya itu. “Ra kenapa?” Suara kak Aldo
mulai agak mengeras. “Kak, Tiara sudah mengidap penyakit ini saat SMP,
bagaimana Tiara meberi tahu kakak? Kakak aja gak pernah pulang! Dan kakak selalu
disibukkan dengan tugas sekolah kakak di luar negeri sana.” “Sekarang kamu
jujur sama kakak, kamu sakit apa?” Suara kak Aldo agak lirih. “Kanker otak kak”
Ucapnya sedih. “Apa?” Tangan kak Aldo
segera bergelayut memeluk adik nya itu. “Ra, maafin kakak ya, kakak gak pernah
perhatian sama kamu!” Ucap kak Aldo dalam kesedihannya. “Kak, Tiara gak pa-pa
kok, Tiara baik-baik saja” Ucapnya tersenyum.
“Terus selama ini yang mengobatkan kamu siapa?”. Mendengar itu Tiara
terdiam dan menatap pohon-pohon di luar mobil sana. “Ra jawab!” Kak Aldo memegang
pundak Tiara. “Revo kak!” Ucapnya lirih. “Revo? Revo yang pernah kakak hajar
itu?” Spontan kak Aldo mendongakkan kepala, dan Tiara membalikkan badan menatap
kakak nya. “Iya kak, dia sangat baik pada Tiara, walaupun dia pernah kakak
hajar, namun dia tidak dendam sama kakak, dan dia yang pertama kali melihat
hidung ku berdarah!” Ucap nya tersenyum. “Ya Allah baik banget dia!” Kak Aldo
menundukkan kepala kemudian melihat langit-langit mobil. “Kak, mari kita
lanjutkan perjalanan!” Ucap Rara
membuyarkan lamunan kakak nya itu. “Oke adik!” Kak Aldo pun segera
menghapus air matanya dan menginjak gas mobil tersebut. Dalam hatinya dia
berjanji untuk selalu melindungi adik kesayangannya itu.
Sesampainya di villa, Kak Aldo
membelai pelan rambut adiknya
“Ra, sudah sampai di villa!”
“Hmm…!” Dia membuka matanya sebentar dan tidur lagi.
“Tiaraaa….!” Panggil kak Aldo pelan
Namun sekali lagi Tiara tidak terbuka matanya.
“Ra… ada Revo!”
“Revo?” Tiara langsung terperanjat kaget dan matanya
langsung terbuka lebar..
“Hahahahaha… kalau ada Revo aja langsung bangun!” Ledek kak
Aldo
“Apaan sih kak?” ucapnya cemberut.
“Em…. Iya kan kamu suka ama Revo?”
“Hehehe” Tiara hanya tertawa dan beranjak pergi tanpa
mempedulikan kakak nya itu
“Ra, Tunggu kakak dong!” Kak Aldo segera keluar dari mobil
dan melangkahkan kaki mengejar adik nya itu
Tiara
yang merindukan papahnya segera meletakkan tas dan melangkah ke belakang.
“Pah….” Panggil Tiara
Namun tidak ada jawaban sama sekali.
“Ra… papah mungkin udah berangkat ke rumah sakit” Ucap kak
Aldo dari belakang.
“Oh!” Ucapnya singkat dan duduk di kursi ruang tamu.
“Kamu kenapa?” Tanya kak Aldo mendekat ke kursi Tiara
“Gak pa-pa!” Ucapnya cemberut
“Bohong, cerita aja dik!” Kak Aldo pun tersenyum
“Kak, kenapa ya, papah mamah kita tidak pernah punya waktu
buat kita?”
“Mereka bekerja buat kita dik!” Dia pun duduk di sebelah
adik nya
“Dan kenapa papah mamah lebih sayang Kak Aldo dan Kak Berli
daripada Tiara?”
“Huss…. Kamu itu bicara apa?”
“Itu nyata kak!” Tiara pun beranjak pergi meninggalkan kak
Aldo
“Ra….” Kak Aldo menggelayutkan tangannya memegang tangan
adik nya itu.
Rara melepas genggaman tangan kak Aldo dan beranjak pergi ke
ke luar villa. Kak Aldo berlari mengejar adik nya itu dan berusaha
menenangkannya. Hanya kak Aldo yan bisa menenangkan gadis itu. Walaupun dia
sempat iri kepada kakanya itu, namun kasih sayang kak Aldo bisa meluluhkan hati
Tiara.
Malam
pun datang. Tiara yang sedang asik menonton tv tiba-tiba ada seseorang yang
memeluknya dari belakang.
“Berlian….!”
Tiara spontan menoleh dan terbangun membalas pelukan dari
papah nya itu.
“Papah…. Tiara kangen…!” Dia sama sekali tidak mempedulikan
panggilan yang ditujukan padanya tadi.
Kak Aldo yang mendengar teriakan adiknya segera turun ke
lantai satu dan melihat apa yang terjadi.
“Tiara? Papah kirain Berlian, kamu kesini sama siapa?” Ucap
papahnya
“Sama…” Sebelum Tiara menjawab, terdengar suara kak Aldo
“Papah….” Papah mereka pun spontan menoleh
“Aldo? Ya Allah jagoan papah yang ganteng banget!”
“Idih…. Ganteng?” Ucap Tiara sinis
“Emang ganteng kok!” ucap kak Aldo sembari mengeluarkan
lidah.
“Papah kenapa jarang pulang?” Tanya Tiara
“Em.. papah sibuk nak!”
“Berli mana?”
“Berli gak ikut!” Ucap kak Aldo
“Kok gitu? Seharusnya diajak dong! Dan Tiara harusnya kamu
kan gak main kesini, biar kamu bisa fokus ke pelajaran mu, kamu harusnya bisa
seperti kakak-kakak mu itu, baru kamu boleh kelayapan!” Ucap papahnya.
Mendengar itu semua Tiara hanya
tersenyum dan hatinya sungguh hancur. Saat papah nya beranjak meninggalkan
mereka, kak Aldo segera memeluk Tiara dan membawanya pergi. Dia tahu bagaimana
perasaan adiknya saat ini. Saat sampai di pintu Tiara melepas pelukan kakak
nya.
“Kak, biarkan Tiara sendiri!” Dia pergi dan melangkah
memasuki mobil. Dinyalakannya mobil tersebut tanpa ragu dia mengemudikan mobil
merah milik kakaknya itu kesuatu tempat. Air mata selalu mengalir menemani
kesediahan di malam itu, hatinya terasa hancur dan pikirannya kacau, dia
berpikir hendak menelpon Revo, tapi takut mengganggu, di tengah-tengan
keheningan malam dia teringat danau saat pertama kali dia bertemu Angel dan
Revo, tanpa ragu dia pun segera mengendalikan mobilnya kesana. Beberapa saat
kemudia, Tiara sampai di tempat yang indah. Disana dia berbaring diatas rumput
dan mengingat semua kenangannya. Dulu sebelum dia mengidap kanker otak, Tiara
adalah anak terpandai dalam keluarga dokter itu, namun saat gejala-gejala mulai
timbul, prestasi nya semakin berkurang, karena saat dipakai belajar kepala dia
sangat sakit, dan itu sangat
menyisaknya. Papah mamahnya sama sekali tidak tahu tentang ini semua.
“Pah, Mah, aku ingin pelukan kasih kalian, aku tahu, aku
tidak sepintar Kak Berli, aku tidak secerdas kak Aldo, tapi itu semua ada
alasannya pah mah!, aku juga ingin pintar seperti mereka, aku sering berusaha
membaca buku, namun apa hasilnya? Aku sering muntah darah saat aku belajar, dan
kepala ku sangat sakit. ” Ucapnya menitihkan air mata.
Tiara
segera mengambil buku hariannya dan menuliskan semua isi hatinya. Namun
tiba-tiba setetes darah mengalir dari hidung nya, Tiara sama sekali tidak
mempedulikan itu, karena itu sudah biasa bagi nya. Tiba-tiba hp Tiara pun
berdering dan ternyata dia mendapat sms dari Revo. “Ra, kamu dimana? “
“Kenapa?” Jawabnya. “Aku ingin cerita ama kamu!” “Cerita aja” ketik Tiara,
“Hari ini aku jadian sama Berli!” Jawab Revo. “Selamat :D” Balas Tiara. “Kok
Cuma selamat? Aku ingin ajakin kamu makan!” Balas Revo. Namun Tiara tidak mengacuhkan
pesan itu dan berjalan menuju danau. Dia sangat sedih, karena selama ini Revo
tidak hanya sahabat terdekatnya namun dia juga orang kedua yang dapat
meluluhkan hatinya selain kak Aldo. “Berli, kenapa kau ambil semuanya!” Teriak
Tiara dengan keras pada danau itu. Tiara terjatuh dan meneteskan air mata,
sedangkan darah terus mengalir dari hidungnya, tiba-tiba pandangannya menjadi
kabur, tubuhnya lemah lunglai dan semua menjadi hitam. Revo yang pada saat itu
berada di mobil bersama Berli khawatir dengan Tiara, karena Revo merasa ada
yang aneh dengan Tiara “Ber, Tiara dimana?” Tanya Revo
“Gak tahu Rev!” Jawabnya
“Bohong!” Suara nya agak keras
“Revo….!”
“Ber, tolong beri tahu aku, dimana dia? Aku khawatir sama
dia!”
“Vo, dia tidak bakal kenapa-napa, dia pergi bersama kak
Aldo!”
“Hah!” Dengusnya kesal.
Walaupun Tiara bersama kakaknya namun Revo merasa cemas.
Dalam dirinya bertanya-tanya keadaan dia sekarang. Sedangkan Berli terserang
api cemburu, namun dia tetap tidak boleh berpikiran negatif pada adik kembarnya
itu, karena Revo adalah sahabatnya, jadi wajar dia perhatian sama Tiara.
“Ber, lebih baik kamu pulang aja ya! Jalan-jalan hari ini
batal!” Ucap Revo sembari memutar setir mobil
Berlian yang mendengar itu tersontak kaget dan menatap Revo
“Kenapa Vo? Apa gara-gara Tiara?”
Revo hanya terdiam dan menyetir mobilnya kencang. Berlian
terpukul atas perkataan Revo, dia membuang muka dan tiba-tiba air mata menetes
dari kedua kelopak matanya.
“Rev….” Berli berusaha menegur pacar barunya itu, namun
tidak terdengar sepatah kata pun dari nya.
“Revo…” Panggilnya agak keras
“Iya Ber?” Jawabnya dengan tetap fokus dalam setirnya
“Vo, rumah kamu kan di dekat villa papah aku, gimana kalau
aku kamu anterin disana aja!” Berli mengatakannya penuh kehati-hatian.
“Sebenarnya aku sih gak masalah, tapi mamah kamu gimana?”
“Mamah gak masalah kok, beliau kan udah kenal kamu lama
sekali!”
“Iya udah deh, ayo!” Jawabnya
Berli pun tersenyum semangat, dia terus menatap Revo. Begitu
keren dan baik, itulah yang dia rasakan. Saat Berli berusaha mengalihkan
pandangan dia melihat sepucuk kertas di laci mobil Revo. Tangannya bergelayut
membuka laci itu, ditemukannya sepucuk surat yang terbungkus amplop berlebel
rumah sakit tempat kerja mamahnya. Dibukanya amplop itu, namun sebelum Berli
sempat membaca, Revo secepat kilat menyergap surat itu.
“Itu apa Vo?”
“Gak pa-pa” Ucapnya lirih
“Kamu sakit apa?” Mata Berli menatap Revo tajam
“Aku gak sakit kok sayang! Kamu tenang aja ya!” Ucap Revo
membalas tatapan Berli sesaat dan kembali fokus kea rah depan. Namun mendengar
pengakuan Revo itu tidak cukup memuaskan rasa penasaran Berli,dia terus
memikirkan isi surat itu.
“Sayang, kamu kenapa diam?” Tegur Revo memecah lamunan Berli
“Aku gak percaya jawaban mu tadi, aku percaya kamu
menyembunyuikan sesuatu!” Mendengar perkataan pacar baru nya itu, Revo segera
menepikan mobilnya dan memeluk Berlian. “Maafkan aku sayang! Tapi itu rahasia,
seseorang mempercayai aku buat menjaga surat itu! Ku harap kamu bisa
memahaminya” Ucapnya lirih. Berlian menatap Revo lembut, rasa cemas yang
menghantui Berli mulai memudar, tanpa ragu dia mulai membalas pelukan pacar
baru nya itu.
______SKIP_______
Tidak
beberapa lama kemudian sampailah mobil Revo di villa keluarga Berlian,
dibukakannya pintu buat Berli, dia pun segera melangkah menuju villa dan
melambaikan tangan buat kekasih barunya itu. Sedangkan Revo yang merasa sangat
gelisah memutuskan pergi ke suatu tempat, dimana Revo, Angel, Andini, dan Tiara
sering meluangkan waktu bersama disana. Tempatnya tidak jauh dari villa itu.
Dia segera menarik gas. Dia berharap di tempat itu dia bisa menenangkan hati
dan perasaannya. Tidak lama kemudian sampailah Revo di tempat yang dituju.
Diparkirkannya mobil itu, segera Revo beranjak keluar dari mobil, namun
tiba-tiba dia melihat sosok gadi berambut panjang terbaring diatas tanah.
“Siapa itu, apa itu hantu? Ah tidak mungkin” Bisiknya dalam
hati. Dia membulatkan tekat dan menemui gadis yang terbaring tadi, setelah
dilihatnya ternyata dia adalah Tiara yang berlumuran darah.
“Rara….” Badannya terasa sangat lemas saat melihat sahabat
terdekatnya terbaring seperti itu. Matanya mulai berkaca-kaca dan diangkatnya
gadis itu. Terlintas dipikirannya untuk membawa Tiara ke villa keluarganya,
namun dia pernah bilang untuk menyembunyikan tentang penyakitnya itu. Revo
segera memutar mobilnya dan beranjak menyetir ke istana pribadi milik orang
tuanya.
Sesampainya
di tempat yang dituju, Revo segera membopong sahabatnya itu masuk ke rumah
“Mam…. Mam…” Panggil Revo dari luar rumah. Mamah Revo yang
sedang menonton tv segera berlari keluar rumah.
“Iya Vo! loh itu Tiara?” Ucap mama Revo kaget
“Iya, ma, tolong Tiara! Tadi dia pingsan di pinggir danau”
“Ya udah, ayo, kita bawa ke klinik mama!”
Mama Revo adalah seorang dokter juga, dia sahabat dekat
papah Tiara, jadi Tiara sudah dianggap anaknya sendiri.
_____SKIP_____
Jarum
jam menunjukkan pukul 23,00 namun Tiara belum pulang juga. Rasa cemas dalam
diri kak Aldo semakin menjadi-jadi, segeralah dia beranjak dari kamarnya,
kakinya melangkah ke ruang pribadi milik sang papah.
“Tok… Tok…” Tangan kak Aldo bergelayut mengetuk pintu
“Pah, bukakin pintu!”
“Masuk Nak!” Jawabnya yang masih sibuk dengan urusan
pekerjaan.
Tanpa basa-basi lagi kak Aldo membuka pintu.
“Pah, aku boleh pinjam mobilnya?”
“Buat apa?” Jawab sang papah yang masih fokus dengan
pekerjaannya
“Buat cariin Tiara”
“Tiara kenapa Do?”
“Dia belum pulang, tadi katanya mau pergi sebentar setelah
papah bicara seperti itu”
“Bicara seperti apa Kak?” Sela Berli
Kak Aldo hanya diam mendengar pertanyaan adiknya itu
sedangkan papah mereka tidak mengacuhkan Berlian
“Apa? Kok bisa?” Papah pun tersontak kaget dan menoleh ke
Aldo
“Bisa lah Pah” Jawabnya pedas
Tidak menunggu lama papah mereka segera beranjak
meninggalkan semua pekerjaannya.
“Aldo, Berli, ayo ikut papah mencari Tiara!” Kaki nya
terlangkahkan keluar kamar menuju garasi
Mereka mencari keberadaan Tiara, namun sampai
tengah malam hasil yang didapat nihil kak Aldo sangat khawatir, dia senantiasa
berdoa kepada Allah atas keselamatan adik nya. Mereka berdua terus menusuri
jalan mencari Tiara. Malam semakin lama semakin larut, namun Tiara juga belum
ditemukan.
“brother, where’s
Tiara? Why is she so suck?”
“Shut up sist!” Wajahnya berubah menjadi
serius dan melotot pada Berlian
“Sudah diam, jangan berantem lagi! Lebih baik kita pulang
saja dulu, kita cari besok saja” Ucap papahnya.
“Besok? Gak mungkin papah punya waktu buat Tiara! Papah kan
hanya peduli pekerjaan! Iya kan Pah?” Wajah kak Aldo berubah menjadi merah,
matanya mulai berkaca-kaca menatap ayahnya.
“Gara-gara papah juga
kan Tiara kabur?” Dia pun mulai membuang muka dan melihat luar mencari adiknya
itu.
“Aldo… Jaga omongan mu”
“Papah tu yang harus jaga omongan papah! Papah tahu tidak
dia datang ke villa buat nenangin diri, karena mamah yang selalu beda-bedain,
dan sekarang setelah sampai di villa papah juga melakukan hal yang sama kepada
dia! Dimana perasaan papah? Dan asal papah tahu Tiara itu sakit….” Suara kak
Aldo terputus teringat ucapan adiknya untuk menyembunyikan penyakitnya itu.
“Sakit apa Aldo? Jawab?” Papah mereka pun segera menepikan
mobil mereka dan memaksa Aldo buat bicara.
“Papah, gak berhak tahu!” Ucapnya sinis
“Kak Aldo…. Kita berhak tahu dong, kita keluarga dia!”
Berlian berusaha meredamkan suasana yang terjadi di mobil itu
“Keluarga? Itu buat mu Ber, tapi buat Tiara itu gak,
pernahkah kamu melihat mamah membelikan paspor buat Tiara? Gak pernah kan?” Air
mata kak Aldo sudah tidak bisa dibendung lagi
“Itu karena…..!” Dia tidak dapat melanjutkan pembicaraan
“Itu karena, papah dan mamah tidak pernah ada buat kami, dan
yang dipikiran papah mamah anak-anak yang pintarlah yang berhak mendapat
perhatian papah dan mamah!”
“Sudahlah percuma kita berdebat, lebih baik kita pulang dan
mencarinya besok!” Ayah mereka pun memutar mobil. Saat melewati danau Aldo
melihat mobilnya terparkir disana.
“Pah, itu mobil Aldo!” Tunjuknya pada mobil ditepi danau
“Mana kak?” Berli pun ikut menatap danau tersebut
“Pah, Tiara ada disana!” Ucapnya semangat.
Papah mereka pun memainkan stir mobil dan memarkirakan di
tepi danau tersebut.
“Tiara…” Panggil kak Aldo, namun tidak ada balasan sama
sekali.
Berkali-kali Berli, papah mereka, dan kak Aldo memanggil,
namun hasilnya nol. Tidak ada jawaban sama sekali.
“Argh… kamu dimana Ra?” Ucap kak Aldo kesal.
Sementara sang papah menemukan sebercak darah di rerumputan.
“Darah apa itu?” Hati papah mereka bertanya. Diambilnya
sempel rumput tersebut dan ditunjukkan pada Berli dan Aldo.
“Aldo, Berli….. ada darah disini!”
“Apa pah?” Berli pun terkejut dan segera berlari, sedangkan
kak Aldo semakin khawatir pada Tiara, tubuhnya menjadi lemas dan bumi memanggil
kakinya.
“Apa tadi Tiara mengeluarkan darah?” Tanyanya dalam diri
“Aldo, mari kita pulang, besok kita cari sama-sama lagi,
papah besok akan bolos buat Tiara!”
“Pah, tapi Tiara belum ketemu!” Air menetes dari mata indah
kak Aldo
“Besok kita cari lagi, papah janji nak!”
“Bagaiaman papah bisa mengajak kita pulang sementara adik kita
belum ditemukan?” bentak Berli yang sedari tadi memperhatikan bercak darah
tersebut.
“Tapi Ber, ini sudah malam! Kalian harus istirahat!”
“Tidak, Pah!” Tangan Berli terkepal dia pun menatap tajam
sang papah
Papah mereka hanya terdiam melihat tingkah laku kedua
anaknya, dia cukup terkejut, ternyata di balik sikap tidak acuh Aldo dan Berli,
mereka sangat sayang pada Tiara. Dia merasa sangat bersalah pada ketiga
anaknya, rasa sayang dan perhatian jarang ditunjukkan pada mereka. Bekerja
bekerja dan bekerja itulah yang sering dilakukan kedua orang tua mereka. Namun
tiba-tiba Kak Aldo beranjak dari tempatnya, matanya tertuju pada sosok lelaki
paru baya yang dipanggilnya papah.
“Papah, kalau andaikan papah ingin pulang, silahkan papah
pulang! Biarkan aku dan Berli yang mencari Rara sendiri!” Dia segera
melangkahkan kaki ke arah Berli.
“Ya sudah terserah kalian saja!” Papah mereka berjalan
membalikkan badan menuju mobil mewah yang terparkir di tepi danau, beliau pun
pergi meninggalkan tempat itu, namun tidak jauh daru tempat itu, kakinya
bergelayut menginjak rem, rupanya dia hendak membuntuti Aldo dan Berli. Walau
pun nampak cuek kepada anak-anaknya, sebenarnya papah mereka sangat
menyayanginya.
Sementara
itu di tepi danau Berli dan Aldo sudah berada di kendaraan pribadi milik Aldo.
Berli berusaha tidak melihatkan rasa sedihnya di depan kakaknya itu, dia terus
menghilangkan tetesan air matanya itu.
“Kamu kenapa terus menyeka air mata mu itu?” Kak Aldo yang
melihat gerak-gerik Berlian pun terkekeh
“Air mata? Gak mungkin lah Kak!, by the way, kita mau cari
Tiara kemana?” mulutnya tersungging kaku tangannya menggaruk kepalanya yang
tidak gatal
“Kakak juga gak tahu!” Mata kak Aldo melepas pandangan pada
Berli dan menatap lurus ke depan
“Gimana kalau…!”
“Aha… Kakak tahu dia dimana Ber! Tapi kamu harus pulang
dulu, jangan ikut kakak!” Sela kak Aldo yang tiba-tiba mendapat pencerahan.
“Loh kak, gak bisa gitu dong, dia kan juga adik aku!” Spontan
Berli langsung menoleh ke arah kak Aldo
“Ya udah, ayo kita ke rumah Revo!” Kaki kak Aldo segera
menginjak gas dan mereka pun menuju rumah Revo
“Revo? Apa hubungannya dengan Revo?” Mata Berli melotot ke arah
kakaknya itu
“Hehehe…. Kamu kepo deh manis!” goda kak Aldo di sela-sela
matanya yang fokus ke depan.
“Ih, apaan sih kak!” Berli membuang muka.
Sejenak
suasana dalam mobil menjadi hening, Berli yang sedari tadi berjuang melawan
tarikan mata akhirnya menyerah,dia terlelap dalam sekejap mata, namun itu
berbeda dengan kak Aldo yang sangat menyayangi adik-adiknya itu, walaupun mengantuk
namun dia akan tetap berjuang untuk adiknya. Mobil Aldo terhenti pada halaman
rumah sederhana milik seorang dokter, tangannya bergelayut memegang pundak
gadis manis di sampingnya, namun mata gadis tersebut tidak kunjung terbuka.
Tidak tega mengganggu adiknya itu, Aldo pun segera turun dari mobil dan
mengetuk rumah sederhana tersebut.
“Tok… tok…”
“Iya tunggu sebentar!” Jawab seseorang yang suaranya tidak
asing buat Aldo
Tidak menunggu lama, pintu di depannya itu mulai dibuka oleh
seorang pemuda tampan berambut agak pirang dengan pipi kemerah-merahan.
“Aldo, mari masuk! Pasti mencari Tiara ya?” Ucap nya ramah.
“Iya Jo!” dia pun berjalan masuk badannya tertunduk dan
matanya menghadapke bawah
“Kak, siapa?” Tanya seseorang dari dalam
“Aldo, Rev!” Jawab pemuda tampan tersebut yang dipanggil
kakak
Alis Revo terkerut, tangannya mengepal di pipi, matanya
menghadap ke atas.
“Bagaimana mungkin kak Aldo tahu, Rara disini? Waduh, bisa
gawat ini, apalagi kalau ada Berlian! Gak tau ah! Berli tahu juga gak masalah!”
Revo mulai beranjak melangkah menuju ruang tamu. Segera lah ditemui kakak
sahabatnya itu.
“Kak Aldo! Ngapain kesini?”
Tanya Revo heran
“Ngapain heran begitu? Biasa aja kali, aku nyari adikku,
pasti disini kan?”
“Kak, lebih baik kakak ke belakang aja ya! Kita butuh sedikt
privasi!” Ucap Revo lirih pada kakak kandungnya itu
“Em… kok tahu Rara disini?”
“Tahu lah, dia pernah bilang kalau hanya kamu yang tahu dia
menderita kanker otak!”
“Oh… Akhirnya ada juga saudaranya yang peduli sama dia!”
Revo pun melirik pemuda tampan disebelahnya
“Makhsudmu apa?” Nada kak Aldo agak tinggi.
“Rev, itu siapa?” Ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari
dalam rumah
“Tiara…..” Panggil kak Aldo dan berlari memeluk adiknya itu.
“Kak Aldo..!” Tiara membalas pelukan sayang dari sang kakak.
Ternyata
Tiara terbangun mendengar suara kakak kesayangannya itu, perasaan Aldo yang
remuk redam menjadi tenang saat melihat adiknya baik-baik saja walaupun dengan
wajah yang pucat. Tiara tersenyum dalam pelukan kakaknya, tanpa ragu dia
membalas pelukan kakak kesayangannya itu, namun ukiran senyum di bibir Tiara
adalah senyum palsu, sebenarnya kepala nya terasa ditusuk ribuan paku.
“Ra… kamu gak ngeluarin darah lagi kan?” Bisik kak Aldo
ditelinga adiknya itu
“Masih lah kak, aku kan wanita, jadi wajar!” Ucapnya
cengengesasan
“Apaan sih? Gak lucu tau!” Aldo memajukan mulutnya, dia
kesal mendengar jawaban adiknya itu.
“Kak, Aldo gak usah khawatir ya! Rara baik-baik saja!” Ucapnya yang masih
dalam dekapan pemuda yang dipanggilnya kakak.
“Ra… kenapa kamu lebih terbuka ke Revo daripada kakak mu
sendir?” Tangannya bergelayut menarik pundak adiknya itu, matanya terpaku
menatap mata Rara.
Tiara yang ditatap kakak nya hanya tersenyum dan
menggelengkan kepala.
“I’ll be fine my
Brother!”
“Promise?”
“Yes!”
Tangan kak Aldo bergelayut memeluk gadis yang dipanggilnya
Tiara, diucapkannya janji dalam dirinya akan selalu menjaga adik nya itu.
Dekapan
kak Aldo mulai terlepas dari Tiara, dia meminta maaf pada Revo atas
perbuatannya selama ini yang tidak sopan padanya.
“Rev, aku minta maaf ya!”
“Maaf? Buat apa?” Revo membulatkan matanya
“Aku selama ini gak berkelakuan baik sama kamu!”
“Oh itu, santai aja kak!”
“Makasih ya, tadi udah ngrawat Rara!”
Revo mendengar itu tertegun dan melirik Tiara, begitupun
dengan gadis itu, Tiara bingung darimana pemuda yang dipanggilnya kak Aldo bisa
tahu.
“Revo…” Panggil kak Aldo yang memecahkan tukar pandang
antara mereka berdua.
“Oh, iya kak! Gak pa-pa! hehehehe”
“Ayo Ra pulang!” Ajaknya pada gadis tersebut.
“Ayo kak!”
Tangan Aldo bergelayut memegang pergelangan tangan Tiara,
sementara itu Tiara memandangi Aldo. “Kak, gendong!” Ucapnya manja. “Apa?
gendong? Kan udah besar, kaki mu juga masih lengkap!” jawab kak Aldo cuek. “Ya
udah kalo gak mau, aku gak mau pulang, aku mau bersama Revo aja!” Badan Tiara
segera berbalik, namun sebelum Rara melangkahkan kaki, tangan kak Aldo
melingkar pada tubuh adik kesayangannya dan dia mulai menggendong Rara. Rara
terkekekh melihat respon kakaknya itu.
Dalam
benaknya dia merasa senang namun juga takut kak Aldo akan menyemburnya karena
telah meninggalkan mobil kesayangan kakaknya
di tepi danau. Bola matanya terus berputar mencari jawaban yang tepat
saat kakak kesayangannya tanya
“Ra, kenapa cemas begitu?” Tegur kak Aldo.
“Enggak kok, Kak, aku minta maaf ya, meninggalkan mobil mu
di tepi danau!”
“Iya, gak pa-pa! Kakak paham kok, pasti tadi kamu pingsan
lagi. Iya kan?”
“Loh, kok tahu?” Mata Tiara langsung membulat dan mendekat
kearah kak Aldo
“Tadi ada bercak darah di rerumputan! Kalau kamu gak
pingsan,gak mungkin lah, bercak darahnya sampai di tanah!”
“Kak Aldo!” Mendengar penjelasannya Tiara tersenyum, sejenak
dia teringat ucapan mamahnya yang selalu membangga-bangga kan kakaknya itu.
“Ra, lebih baik kamu tidur dulu!” Ucap kak Aldo membuyarkan
lamunan Rara
“Sip kak!” Sedikit demi sedikit matanya mulai terpejam dan
dia pergi ke dunia mimipi.
Keesokan
harinya, sang mentari terbangun dari tidurnya, alam semesta yang indah, embun
pagi yang segar, dan hangatnya sinar sang surya menemani ketiga saudara yang
sedang asik berkumpul di ruang keluarga. Tiba-tiba terdengar suara ketukan
pintu, Berlian segera beranjak dari tempatnya dan melangkah membukakan pintu.
Dia cukup terkejut, karena Revo pagi-pagi sekali sudah menghampirinya.
“Revo..!” Mata indahnya yang masih tampak sipit dalam
hitungan detik berbinar setelah melihat pemuda di depanya itu
“Sayang, Rara ada?” Mata Revo menjelajahi seisi rumah gadis
itu mencari sosok gadis yang disayanginya.
“Em…. Ada kok” jawabnya lirih
Tanpa mempersilahkan masuk, Berli langsung memutarkan badan
dan melangkah pergi. Revo sama sekali tidak menyadari kepergiannya. Sampai
beberapa menit dia baru menyadari Berli sudah pergi dari tempatnya beranjak
sekarang.
“Loh, Berli kemana?”
Tanpa ragu-ragu Revo melangkah masuk dan matanya berkelana
memandangi seisisi villa itu. Sedari tadi gadis yang bernama Tiara tidak
tertangkap dalam penglihatannya. Langkah Revo terhenti saat melihat sebuah foto
keluarga, matanya tertuju pada gadis kembar yang sangat dia kenal.
“Berli, Tiara, kalian cantik sekali!” Ucapnya lirih
Di sisi lainTiara yang merasa
penat berada di ruang keluarga berniat untuk mencari udara segar, tanpa minta
persetujuan kedua kakaknya dia melangkah ke ruang depan. Namun saat dalam
perjalanan, dia menangkap sosok pemuda tinggi, berkulit putih.
“Hei, kamu siapa?” Ucapnya dari kejauhan
“Hei!” Revo yang mendengar suara itu terkejut, dia spontan
langsung menoleh
Tiara yang langsung mengenal pemuda tersebut berjalan
mendekatinya.
“Revo,,, aku kira kamu bohong bakal datang kesini! Kok kamu
gak sms aku?” Tiara sangat girang bertemu sosok Revo di pagi hari.
“Loh, Berlian gak bilang?”
“Gak tu, kak Berli gak bilang!” Rara terlihat agak kecewa
pada saudara kembarnya itu.
“Udah dong! Jangan cemberut, nanti tambah jelek lo!”
“Apa lo? Ya udah aku ke atas dulu ya! Kamu tunggu di ruang
tamu aja !”
“Masak sih, aku harus di ruang tamu? Aku kan sahabat mu Ra?”
“Terus mau nya kemana?”
“Ke hati mu!” Revo hanya cengengesan menatap Tiara
“Hati ku gak muat buat orang segedhe kamu! Ya udah sana ke
ruang keluarga! Disana ada kedua kakak ku!”
“Tapi dimana?”
“Itu tu, kamu jalan kesana, kemudian belok kiri!” Tangan
Tiara pun menunjuk arah yang dimaksudkan.
Revo
mengikuti petunjuk Tiara, akhirnya pun dia sampai di ruang keluarga melihat kak
Aldo dan Berli yang sedang asik bercanda sembari menonton film kesukaan mereka.
“Pagi my princess dan kak Aldo!” Revo berjalan mendekat
“Oh, Revo, mencari Berli apa Tiara?” Tangan kak Aldo agak
menyenggol adiknya yang bernama Berli
Sedangkan Berli terlihat sangat sebal pada pacarnya itu, dia
beranjak pergi, namun Revo segera mengejar.
“Ber, kamu kenapa?”
“Gak apa-apa!” Dia pun membuang muka dan melanjutkan
langkahnya, namun tangan Revo segera sigap menangkap nya
“Ber, jawab, aku bukan peramal yang bisa melihat isi hati
mu! Aku salah apa sama kamu?” Dia menarik tangan Berli.
“Revo! Lepasin tangan aku, ini sakit tau!”
“Ber, tolong! Kamu kenapa? Kasih tau aku!”
“Oke, aku akan kasih tahu, aku cemburu Vo! Dulu semua orang
peduli sama aku, tapi sekarang? Tidak Vo! Kamu dan kak Aldo lebih sayang ke
Tiara!” Air mata mengalir di sela-sela wajah cantiknya.
“Berli, dia itu sahabat aku, harusnya kamu paham!” Revo
berusaha menenangkan pacarnya itu.
“Dan aku pacar mu!” Ucapnya keras dan melepas tangan
kekasihnya itu.
“Berli!” Revo mengejar Berli yang terpukul hatinya.
Tanpa mereka sadari Tiara mendengarkan pembicaraan, dia
sangat sedih mendengarkannya. Kak Aldo melihat Tiara yang menyeka air mata
memahami apa yang tengah dirasakan adiknya itu. Memang dari dulu Berli selalu
berusaha lebih unggul dari Tiara. Tangan kak Aldo bergelayut menumpang sejenak
di punggung adiknya itu. Rara yang sama sekali tidak menyadari kehadiran
kakaknya itu terperanjat dan membalikkan badan untuk melihat pemilik tangan
tersebu.
“Kak Al…!”
“Husst.. gak jadi pergi sama Revo?”
“Heheheheh, lebih baik enggak kak!”
“Kalau enggak ya udah! Mari ikut kakak!”
“Kemana kak?”
“Udah lah ikut aja!”
Kak Aldo menarik tangan Tiara. Sedangkan tiara hanya pasrah
menghadapi kakak nya itu
Kakak
Tiara membawanya ke depan rumah, dan ternyata disana terdapat Angel dan Andini.
“Angel! Andini!” Rara berlari memeluk kedua sahabatnya itu.
“Rara..!” Angel dan Andini membalas pelukannya.
“Loh, kalian datang bersama Revo?” Tangan Rara mulai
berhenti memeluk mereka berdua.
“Iya, tapi dia tadi yang masuk duluan buat mencari kamu!”
“Eh.. tadi dia malah ketemu pacarnya, dan berantem deh
mereka!” sambung Tiara
“Ha? Iya kah? Wah bahan baru ni Din!” Senggol Angel pada
Andini
“Apaan sih Ngel?” Ucap Andini nyengir.
“Eits…. Ingat janji kita, gak bakalan menyakiti sahabat,
menghianati sahabat, dan akan bersama selamanya!” Ucap Rara
“Iya deh, iya deh! Jadi kita menunggu Revo?”
“Iya dong!” Jawab Andhini semangat
“Gak usah ditunggu guys, Revo sudah disini!” Ucapnya
cengar-cengir sembari menggandeng gadis cantik yang bernama Berlian itu.
Setelah semuanya sudah lengkap,
mereka pun berangkat ke tempat yang dituju. Di dalam perjalanan Tiara, Angel,
dan Andini berada di kursi belakang. Rupanya mereka sedang asik bercanda.
Tiba-tiba hidung Rara terasa sangat lembab, dia segera mengambil tisu dari tasnya,
namun tisu yang selalu menemaninya tertinggal di kamar. Dia pun segera mengelap
darah itu, namun itu begitu banyak. Angel yang tidak sengaja menoleh ke arah
Rara terkejut melihat darah itu.
“Ra…. Kamu kenapa?”
Seisi mobil terkejut mendengar teriakan Angel, Revo yang
menyetir spontan memberikan tisu ke Angel!
“Angel sakit!” Ucap Rara lirih
“Vo, cepat ke rumah sakit!” Andini berteriak kea rah Revo.
“Ber, cepat telepon kak Aldo!” Revo berteriak ke kekasihnya
itu.
“Iya-iya Vo!” Berli yang gugup tidak mampu berbuat apa-apa
Penglihatan Tiara semakin lama semakin kabur, dunia berubah
menjadi gelap seketika, terdengar dari telinganya suara jeritan kedua
sahabatnya itu.
Beberapa
jam kemudian mata Tiara terbuka, terlihat semua sahabatnya, kak Aldo, dan kak
Berli berdiri mengelilinginya. Dia merasa senang, namun ada sesuatu yang
kurang. Mamah dan papah yang sangat dia sayangi tidak kunjung menampakkan diri.
“Kalian semua masih disini?” Ucap Tiara tersenyum
“Bagus ya kamu Ra! Sok kuat dihadapan aku dan Angel, padahal
kamu sakit! Kita berhak tau Ra!” Ucap Andini diiringi butiran mutiara terjatuh
dari kedua matanya.
“Sahabat mu bukan hanya Revo!” Ucap Angel kesal, namun air
mata menemani wajah cantiknya
“Maafkan aku Angel, Dini!” Tiara mengembangkan senyuman di
wajahnya
“Ra, kamu harus cepat-cepat di kemoterapi! Kalau tidak nyawa
mu bisa terancam!” Ucap kak Aldo
Mendengar itu, Tiara hanya bisa tersenyum pasrah.
“Kenapa senyum?” Celetuk Revo
“Aku tahu Vo, saat seperti ini pasti datang, walaupun aku
sudah bersikeras menyembunyikan penyakit ini, pasti semuanya akan terbongkar.
Dan pasti kalian menyuruh ku untuk kemoterapi”
“Rara…..” Ucap Angel lirih
Angel, Andini, dan Revo memeluk Tiara, mereka seperti tidak
mau kehilangan sosok sahabat seperti Tiara.
Hari
ketiga Tiara dirawat di rumah sakit dan ini adalah hari dimana Tiara
menjalankan kemoterapi. Selama tiga hari ini papah dan mamahnya belum
meluangkan waktu untuk menjenguknya, hanya kak Aldo dan Berli yang menemaninya
di rumah sakit
“Ra, kakak punya kabar baik” Ucap kak Aldo
“Apa kak?” Tiara penasaran dengan kabar itu
“Em… mamah akan pulang dari tugasnya di Jerman dan dia akan
langsung menjenguk kamu!” Jawab kak Aldo semangat
“Kak, tapi mamah tahu dari mana?”
“Dari aku Ra..!” Sela Berli yang tiba-tiba mendekat kea rah
Tiara
“Terimakasih Kak!”
Tangan Tiara bergelayut memeluk lingkaran pinggang kakak
yang dipanggil Berli tersebut.
Keesokan
harinya sebelum mama Tiara sampai kondisi nya sangat lemah, namun dia berusaha
untuk membuka matanya, dia berusaha untuk tidak lemah walaupun penyakit nya
sudah meracuni dirinya. Saat- saat seperti ini Revo, Angel, dan Andini datang
,menjenguk sahabatnya itu. Namun saat Jarum lingkaran waktu menunjuk angka
09.00 pagi, mata Tiara sedikit demi sedikit terpejam. Dia merasa sangat nyaman
dalam tidur itu, rasa sekit kepala yang terus mengganggu dirinya tiba-tiba
menghilang, terdengar suara teriakan dan tangisan di sekeliling dirinya. Dia
merasa sangat heran dengan situasi ini, dalam tidurnya Tiara sangat bahagia,
namun kenapa orang-orang di sekeliling nya menangis. Dalam pendengarannya yang masih jelas, dia
mendengra suara tangisan Berlian, kak Aldo, Revo, Angel, dan Andini. Dan yang
paling membuat Tiara terkejut adalah suara tangisan mamah dan papahnya.rasanya
dia sangat ingin membuka matanya, namun sayang dia sudah sangat menyukai
dirinya yang sekarang.
Beberapa
hari kemudian setelah pemakaman Tiara, Aldo memberikan sepucuk surat yang
pernah Tiara goreskan kepada sahabatnya di danau tempt favorit mereka
Dear Revo, Andini, dan Angel
Maaf
kan Aku ya, aku tidak pernah bilang tentang penyakit ku ini, namun aku hanya
ingin kalian tidak sedih memandang aku, aku takut kalian meninggalkan aku
apabila kalian tahu aku pengidap penyakit kanker otak.
Aku
sangat berterimakasih pada Revo, karena dialah yang memergoki ku pertama kali
saat hidung ku berdrah, dan berkat orang tua nya aku masih bisa bertahan sampai
sekarang ini. mungkin saat kalian menerima surat ini aku telah tiada, namun
ketahuilah teman, aku sangat ,sayang sama kalian. Tolong jangan berfikir aku
lebih sayang sama Revo daripada Angel dan Andini, itu semua salah. Memang aku
dulu sempat jatuh cinta pada Revo, namun itu dulu, sebelum aku terkena penyakit
ini.Sekarang aku sadar aku tidak pantas menyukai Revo, karena dia telah
mempunyai kak Berlian.
Sekian
Surat dari saya, I love you my best friends
Love
Cahaya Mutiara Aulia
Pratama Approdite
Membaca surat itu, Revo, Angel, dan Andini menangis. Tangan
Andini bergelayut memeluk Angel, sedangkan revo diam terpaku menatap langit,
butiran air menetes dari kedua matanya.
“Ra, kita tidak akan melupakan kamu, karena kamu bagai
mutiara dalam hidup kami!” Ucap Revo lirih dalam sela-sela tangisnya
Mendengar ucapan Revo, Andini melepas pelukannya.
“Tiara adalah satu dalam diri kita, kita adalah jerami
tersulam menjadi tikar. Dimana kita selalu bersama walaupun banyak masalah
dalam hidup kita” Andini mulai dapat menyeka air mata.
Mendengar perkataan itu Angel memeluk kedua sahabatnya
dengan erat
“I love you my best friends!”
Disisi
lain, kak Aldo memberikan sebuah buku harian berwarna ungu pada Mamah, Berlain,
dan Papah. Mamah mereka sangat merasa bodoh, karena dia tidak bisa mengenali
penyakit yang diderita oleh anaknya sendiri, begitupun juga dengan papah
mereka, yang tidak pernah mendengarkan Tiara. Mereka hanya berpikir Tiara adalah
anak yang malas belajar. Sebenarnya dia sangat ingin mendapat perhatian kedua
orang tuanya seperti Berlian dan Kak Aldo. Setiap malam dia selalu belajar,
meskipun seperti ada jutaan paku di kepalanya. Namun Tiara juga bukan seorang wonder woman, dia juga bisa menyerah
saat menahan rasa sakit itu. Itulah yang menyebabkan dia selalu menjadi
terbawah di kelasnya.
Tiara anakku kau adalah, Cahaya Mutiara ku, maafkan mamah
ya! Semoga kau tenang di alam sana!” Ucap mamahnya sembari memeluk buku
berwarna ungu itu. Mutiara keluar dari kedua mata Berlian, tangannya pun
bergelayut memeluk wanita cantik yang dipanggil mamah tersebut. Sedangkan sang
papah diam terpaku menatap pintu mengingat saat dia menjadi peri kecil pengisi
hari-hari sepi sang papah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar