Kamis, 27 Juni 2013

I Will Be Fine


Sinar sang surya menampakkan semburat merah di ufuk timur menambah hiasan bahtera alam semesta. Bentangan samudra hijau nan tampak segar menghiasi rumah mewah milik dokter  ternama. Nampaknya embun yang masih bergelantungan dan dinginnya udara pagi tidak menurunkan niat dua gadis cantik untuk berada di balkon rumahnya sembari menikmati suasana udara pagi. Tidak seorang pun tetangga mengenal salah satu gadis cantik tersebut. Bahkan ini adalah hari pertama dia menampakkan diri di rumah itu.
“Berli……..” Panggil seseorang dari dalam rumah
“Iya mah!” Jawabnya sembari meninggalkan bukunya di balkon dan masuk.
“Nak, nanti kamu ke SMA diantar mamah ya?”
“Apa Mah? Udah deh mah aku bisa sendiri kok! Aku udah besar jangan op!”
“Bukan gitu, Kamu kan baru disini, mamah takutnya kamu kenapa-napa, lagi pula kamu kan juga belum mengenal daerah ini dengan baik!”
“Ya udah deh mah, aku nurut aja!” Ucapnya pasrah sembari meninggalkan wanita tersebut menuju balkon kamarnya
“Berlian, jam 06.30 harus sudah siap, soalnya mamah ada operasi pagi ini!” Teriak wanita itu.
“Sip oke, Mah!” Balas Lian dengan mengacungkan jempolnya
_______________SKIP_________________
Di balkon kamar Tiara
                Tiara yang melihat Berlian kembali ke kamar nampak tidak senang dengan kehadiran kakaknya itu.
“Ra, kamu kenapa?” Tanya Berlian mendekati adiknya yang tiba-tiba membuang muka.
“Gak pa-pa kak.” Ucapnya sembari tersenyum.
“Ya udah deh, ayo kita persiapan berangkat sekolah, tadi katanya mamah, pukul 06.30 kita harus sudah siap-siap”
“Em….. sip deh kak!” ucap Tiara sembari mengacungkan jempolnya.
_________SKIP__________
                Jarum merah tepat menunjukkan pukul 06.30, namun Tiara tidak kunjung menemui kakaknya. Berlian yang sedari tadi telah menunggu adiknya di bawah, merasa bosan dengan tingkah lelet adiknya tersebut.
“Tiara, cepat turun. Nanti kasihan Mamah!” Teriaknya dari lantai bawah.
Namun tidak ada satupun sumber suara yang menjawab teriakan Berlian tersebut. Akhirnya dia pun menuju kamar Tiara di lantai atas dan mengetuk pintu kamarnya.
“Ra, cepat keluar, kasihan Mamah, nanti dia ada operasi.”
Namun sekali lagi tidak ada yng menjawab. Dia mulai mengerutkan alisnya dan merasa sebal pada kelakuan adik kembarnya itu. Berli yang sedari tadi merasa tidak diperhatikan, merasa bosan dan akhirnya menuju garasi menemui mamahnya dan berangkat sekolah tanpa ada Tiara.
“Mah, Tiara kemana? Tadi kok waktu ku panggil gak ada jawaban?” Tanya Berlian
“Mungkin dia udah berangkat”
“Apa Mah? Kok bisa, tadi kan aku udah bilang buat berangkat bareng?”
“Tadi katanya dia mau beli sesutau”
“Oh gitu ya mah. Ya sudah” jawab Berlian dengan sedih.
“Kak Berli, mah tunggu!” Ucap Tiara berlari mengejar mobil
Untuk menenangkan suasana hatinya yang sedang jengkel pada adik kembarnya, Berlian menyalakan MP3 favoritnya.
Sesampai di sekolah barunya, Berlian segera turun dari mobil dan menuju ke ruang kepala sekolah, disana Berlian tidak melihat Tiara. Dia mulai mencemaskan adik nya tersebut.
“Kok Tiara belum sampai ya?” Ucapnya dalam hati
“Kamu kenapa Ber?”
“Gak pa-pa Mah!” Ucapnya sembari tersenyum
Di ruang kepala sekolah
“Tok…. Tok…..” ketuk Ibu Berlian
Tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu kantor tersebut.
“Oh Ibu, silahkan masuk, bapak Hadi Kusumo sudah menunggu!”
“Iya pak, makasih! “ ucapnya disertai senyuman manis.
“Silahkan duduk bu, bentar saya panggilkan kepala sekolah dulu!”
“Iya pak!”
“Jadi ini sekolah Berli yang baru mah?” Ucap Berli dengan suara lirih
“Iya, kenapa sayang?”
“Gak pa-pa, tapi kenapa aku gak disekolahin di sekolah internasional aja? Pasti kan lebih bagus kualitasnya”
“Husst… jangan bicara kayak gitu disini sayang!”
“Iya… iya deh mah!”
Beberapa menit kemudian keluarlah seseorang berpakaian rapi dari sebuah ruang.
“Selamat pagi ibu dokter” ucap orang tersebut dengan ramah.
“Selamat pagi pak” Ucap Ibu Berli sembari berdiri dan bersalaman dengan kepala sekolah itu. Sedangkan Berlian yang dari awal sudah tidak suka dengan sekolah itu hanya terduduk diam dan berwajah kecut.
 “Oh, jadi ini anak ibu yang mau pindah ke sini?”
“Iya, pak!”
“Mari Buk, Nak, saya antarkan ke ruang kelasnya!”
“Ayo Sayang!”
“Iya mah!”
Sesampainya di ruang kelas, anak-anak tertegun melihat gadis cantik berwajah mirip dengan salah satu teman mereka.
“Dia siapa?” Tanya salah satu dari mereka
“Tak tahu!” Jawab teman yang duduk di samping gadis tadi
“Kok wajahnya mirip dengan Rara ya?”
“Iya sih! Apa dia kembarannya Rara?” Tanya salah satu diantara mereka yang bernama Andini
“Gak tahu, kamu kan yang deket dengan Rara Ndin.” Tanya salah satu diantara mereka kepada Andini.
“Iya, tapi setahu ku di rumah Rara gak ada cewek itu, paling yang ku temui Cuma mama papanya dan juga kak Aldo” Ucapnya heran.
“Masak sih? Terus dia siapa?”
“Mungkin…”
Sebelum Andini menjawab pertanyaan salah satu temannya itu, masuklah wanita yang tidak asing bagi Andini.
“Loh, itu kan mamahnya Rara!” Tunjuk Andini pada wanita tadi.
“Iya kah?” Tanya salah satu diantara mereka.
Obrolan sekelompok anak-anak tadi terhenti saat kepala sekolah mengenalkan gadis cantik tadi.
“Selamat pagi anak-anak”
“Pagi pak” Jawab semua siswa
“Pagi ini kalian mendapat teman baru, dia pindahan dari luar negeri, silahkan memperkenalkan diri”
 “Selamat pagi semua, perkenalkan nama saya  Cahaya Berlian Aulia Pratama Approdite, kalian bisa memanggil saya Berli atau Lian, saya pindahan dari SMA Light in This World. Semoga kita semua bisa berteman dengan baik, apakah ada pertanyaan mengenai saya? Ucapnya sambil tersenyum
“Apakah kamu saudara kembar Rara?” Tanya salah satu gadis yang bergerombol tadi.
Rara yang mendengar pertanyaan temannya yang bernama Angel itu langsung tertegun dan menatap mamahnya penuh arti.
“Siapa itu Rara?” Berli mulai mengerutkan alisnya, Mamah yang sedari tadi mendampingi dia berbisik kepada Berli.
“Rara itu Tiara sayang, itu nama panggilan temannya untuk dia.”
“Ohh…!” Berli memfokuskan pandangannya pada teman-teman  barunya lagi.
“Iya” jawabnya dan melirik Tiara yang duduk di kursi paling belakang pojok
“Tapi, kenapa aku tidak pernah melihat mu di rumah dia?” Tanya Andini
“Saya jarang pulang, saya lebih focus ke tugas saya di senior high school, jadi saya gak punya waktu buat pulang.
Mendengar pernyataan kakanya itu, Rara hanya bisa tersenyum kecut dan bergumam dalam hatinya
“Huh, dasar sombong!”
“Masih adakah pertanyaan yang lain?” Tanya dia dengan penuh antusias.
“Kalau tidak ada, terimakasih!”
“Berli, silahkan kamu dudk di sana!” telunjuk kepala sekolah bergelayut menunjuk bangku kosong di sebelah cowok tampan bernama Revo
“Iya pak, makasih.” Ucapnya seraya pergi ke tempat duduk di samping Revo.
Revo yang duduk di sebelah gadis itu tak henti-hentinya berdetak kencang hatinya karena kemanisan wajah dan senyuman yang ditunjukkan di depan tadi.
“Kenalkan, nama ku Revo!” Ucapnya pada gadis tadi.
“Oh iya, nama ku Berli!” Ucapnya tersenyum
Revo semakin tertarik pada gadis ini
“Wow.. amazing” ucapnya dalam hati, terasa ada kupu-kupu terbang dalam dirinya
Pelajaran pun dimulai dan para siswa mulai fokus pada pelajaran, namun salah satu diantara mereka ada yang tertidur pulas di pojok belakang kanan. Berli yang melihatnya hanya dapat tersenyum manis. Bel istirahatpun berdentang, dan semua siswa berhambur keluar, kecuali  saudara kembar tersebut. Tiba-tiba nampak sosok lelaki tampan, berambut agak merah, dan tinggi masuk ke dalam kelas. Dia tampak mencari seseorang. Namun tidak beberapa lama lagi matanya tertuju pada satu titik di belakang, lelaki itu mulai menapakkan kakinya kearah sana.
“Berli!” Tegur pemuda itu pada Berli.
“Kak Aldo!” Ucap Berli dengan mengembangkan senyumnya.
“Kok kamu duduk di belakang? Bukannya penglihatanmu kurang ya?”
“Adanya Cuma ini kok kak!” Ucap Berli sembari cemberut.
“Ih, kamu lucu deh adek ku sayang kalau cemberut!” Ucapnya sembari mencubit pipik adiknya itu.
“Ih, Kak Aldo Jelek!”Berli pun berusaha membalas cubitan kakaknya itu, tapi tidak berhasil.
“Ehem… ehem… ada yang sedang asik bergurau ni… sampai ada yang merasa dicuekin!” Ucap Tiara dengan cemberut.
“Oh god, kenapa aku punya adik yang pencemburu!” Ucapnya cengengesan dan mendaratkan ciuman di pipi adiknya itu.
“Kak Aldo….” Ucap Tiara malu
“Ih, pipinya merah!” Ledek kakak Tiara tersebut
“Malu tau, aku udah besar, jangan dicium di sembarang tempat!”
“Hihihihihihi…..!” Melihat wajah adiknya yang kesal itu, Aldo hanya bisa cengengesan.
“Ber, Ra, Kakak mau ngomong sebentar, sini merapat” Ucap Aldo sembari menarik kedua tangan adiknya itu.
“Di sekolah, kakak mohon jangan pernah manggil kakak dengan sebutan kakak, terutama kamu Ber!”
“Kok aku sih kak?” Ucap Berlian kaget.
“Ya iya lah, Kalau Tiara kan udah tahu!”
“Iya-iya kak, tapi kenapa?”
“Kakak gak mau kalian dimanfaatin ama cewek-cewek yang terobsesi sama kakak!” Ucapnya cengengesan.
“Uh…. Dasar PD” Ucap Berli sembari mendorong pelan kakaknya itu.
“Hahahahaahah…. Iya-iya terserah kamu aja deh Ber, adikku yang palig manis.” Ucapnya sembari beranjak pergi meninggalkan mereka berdua. Tiba-tiba tangan Tiara melingkar lembut di tangan Kakanya itu.
“Mau kemana Kak?”
“Ya mau masuk kelas lah, Dik” Ucapnya sembari menatap adik kesayangannya itu.
“Iya deh Kak, sana pergi!.. hus!….”
“Huh, tadi gak mau ditinggal, sekarang malah ngusir?”
“Sorry! Gak mau ditinggal?”
Mendengar ocehan adiknya itu, Aldo hanya tersenyum dan beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
 Beberapa menit kemudian bel tanda masuk kelas berbunyi, dan semua siswa mulai memasuki ruang kelas. Semuanya duduk rapi menunggu kedatangan guru, namun setelah beberapa menit, guru yang dinanti tidak kunjung datang, dan ini merupakan surga bagi pelajar. Mereka mulai beranjak dari tempat duduk dan membuat kegaduhan di dalam kelas. Ada yang bergosip, bernyanyi, dan ada pula yang membaca buku. Walaupun Berli dan Rara adalah saudara kembar, namun mereka tidak pernah bertegur sapa kecuali kakak nya lah yang menyatukan mereka.
Berli hanya duduk melamun di bangku nya, dia tidak mengenal satu pun teman disana, kecuali Revo dan Tiara. Sedangkan Tiara asik mengobrol dengan Andini, Angel, dan Revo di pojok belakang kelas. Tiara sama sekali tidak punya niat untuk mengenalkan sahabat-sahabatnya pada saudara kembarnya itu.  Iya, Andini, Angel, dan Revo sudah bersahabat sejak SMP dan mereka sudah seperti saudara dekat. Diantara ke empat sahabat itu mempunyai sifat yang berbeda jauh, namun diantara mereka tidak pernah mengeluh akibat perbedaan sifat tersebut.
                Tiba-tiba saat Andini, Revo dan Rara tertawa, terlihat Angel yang melirik ke arah Berlian yang duduk menyendiri di kursinya.
“Ra, kenapa kamu tidak mengajak saudara mu bergabung dengan kita?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar