Kamis, 27 Juni 2013


Well, guys.... selamat datang di web gue, web paling gaje seluruh dunia..... kali ini gue mau ngpost agama hindu budha di Indonesia #wih, jadi ahli sejarah ni.... udah ah gak usah banyak cingcong... kita langsung cus aja ya... selamat membaca




Agama Hindu-Budha di Indonesia






Disususn oleh:
1.      Aditya Yuliananto (01)
2.      Anissa Fitri (03)
3.      Bioli Nindi Tiara Putri (05)
4.      Defi Ardia Pramesti (07)
SMA NEGERI 1 PATI
Tahun 2012/2013







Halaman Pengesahan
Makalah yang berjudul “Perkembangan Agama dan Kerajaan  Hindu Budha di Indonesia” telah diajukan pada tanggal 21 Januari 2013. Dengan susunan penyusun sebagai berikut:
1.      Aditya Yuliananti
2.      Anissa Fitri
3.      Bioli Nindi Tiara Putri
4.      Defi Ardia Pramestii
Disahkan oleh:
Guru Pembimbing:


                                                                                      
Amal Hamzah




DAFTAR ISI
Judul……………………………………………………………………………….1
Halaman Pengesahan……………………………………………………………...2
Kata Pengantar………………………………………………………………….....4
Pendahuluan……………………………………………………………………….5
Jalur Perdagangan India Cina Melalui Indonesia.....................................................6
Teori Masuk dan Berkembangnya Agama serta Kebudayaan Hindu-Budha ke Indonesia……………………………………………………………………….….6
Kerajaan Kutai….…………………………………………………………………8
Kerajaan Tarumanegara………………………………………………………….11
Kerajaan Holing………………………………………………………………….12
Kerajaan Melayu…………………………………………………………………13
Kerajaan Sriwijaya……………………………………………………………….17
Penutup…………………………………………………………………………...22
Lampiran…………………………………………………………………………23
Daftar Pustaka……………………………………………………………………29













Kata Pengantar
            Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayahnya kepada kami semua. Sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.
Penulisan Makalah ini bertujuan agar pembaca dapat memperluas ilmu pengetahuan tentang sejarah perkembangan agama Hindu-Budha di Indonesia. Penyusunan makalah ini didasarkan pada sumber informasi dan referensi yang kami temukan.
            Makalah ini disususun atas kerjasama dari kelompok pertama yang beranggotakan Aditya Yuliananto, Anissa Fitira Ningrum, Bioli Nindi Tiara Putri, dan Defi Ardia Pramesti, atas petunjuk dan bimbingan guru sejarah kami yang bernama Bapak Amal Hamzah.
            Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan dapat memberikan informasi tentang sejarah berkembangnya agama Hindu-Budha di Indonesia,















BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Agama Hindu-Budha bukan berasal dari Negara Indonesia, melainkan berasal dari Negara India. Para pedagang India datang beserta membawa Agama Hindu-Budha beserta kebudayaannya. Dan ajaran tersebut mudah diterima oleh masyarakat Indonesia. Berhubung dengan tersiarnya Agama Hindu-Budha sedikit demi sedikit kepercayaan Animisme dan Dinamisme hilang.
Dengan tersebarnya Agama Hindu-Budha dari India sistem pemerintahan di Indonesia pun juga berkiblat pada negara India. Sebagai bukti pemerintahan primus interperes sudah ditiadakan, diganti dengan system pemerintahan kerajaan. Dimana kekuasaan  hanya boleh dipegang oleh keturunan raja. Selain itu dalam dunia sosial dikenal dengan adanya  kasta.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana agama Hindu-Budha dapat masuk ke Indonesia?
2.      Bagaimana system politik di Indonesia zaman Kerajaan Hindu Budha di Indonesia?
3.      Apa yang menjadi petunjuk adanya Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia

C.     Tujuan
1.      Menjelaskan kronologi masuknya Agama Hindu-Budha di Indonesia
2.      Menjelaskan system politik zaman Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia
3.      Memberikan petunjuk yang mengungkapkan adanya Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Teori Masuk dan Berkembangnya Agama serta Kebudayaan Hindu-Budha ke Indonesia
1.      Jalur perdagangan India-Cina melalui Indonesia
Indonesia merupakan Negara kepulauan yang dihubungkan oleh selat dan laut. Selat dan laut tersebutlah yang mendorong terjadinya pelayaran yang mendorong perdagangan, tidak hanya di suatu daerah tapi di luar daerah bahkan luar negeri. 
Sejak ditemukan jalan melalui laut antara Cina dan Romawi, hubungan dagang mereka pun semakin kuat. Sehingga rute yang dilewati oleh para pedagang dari Cina maupun Romawi terdorong untuk ikut berdagang dengan pedagang dari Negara lain. Salah satu Negara yang berada dalam rute tersebut adalah Indonesia, maka tidak heran apabila terjadi hubungan dagang antara kerajaan-kerajaan di Indonesia dengan Cina beserta India, karena posisi Indonsia yang strategis yakni di tengah-tengah jalur perdagangan Cina dan Romawi.
2.      Teori Masuk dan Berkembangnya Agama serta Kebudayaan Hindu-Budha ke Indonesia
Melalui hubungan perdagangan, berkembanglah kebudayaan dan agama yang dibawa oleh pedagang. Salah satunya adalah para pedagang India menyebarkan agama Hindu dan Budha yang kemudian dianut oleh para raja dan bangsawan. Dari lingkungan tersebutlah agama tersebut menyebar ke lingkungan masyarakat.
a.       Penyiaran Agama Budha di Indonesia
Penyiaran agama Budha lebih dahulu dari agama Hindu. Dalam peneybarannya agama Budha mengenal istilah Dharmadhuta. Tersiarnya agama Budha diperkirakan sejak abad 2 Masehi, dibuktikan dengan arca Budha perunggu di Jember., Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Selain itu juga ditemukan arca batu di Palembang.
b.      Penyiaran Agama Hindu di Indonesia.
Agama hindu di Indonesia di sebarkan oleh kaum pedagang, baik itu pedagang India yang datang ke Indonesia atau pedagang Indonesia yang datang ke India.Selain itu juga dikemukakan teori tentang tersebarnya agama Hindu di Indonesia yakni:
¨      Teori Sudra: Persebaran agama Hindu di Indonesia dibawa oleh orang berkasta sudra, karena merekadianggap sebagai orang buangan.
¨      Teori Waisya: Persebaran agama hindu di Indonesia dibawa oleh orang-orang berkasta waisya, mereka adalah parapedagang di Indonesia dan menetap, bahkan menikahi wanita setempat.
¨      Teori Ksatria: Persebaran agama Hindu di Indonesia dibawa oleh orang-orangyang berkasta ksatria. Hal ini karena adanya kekacauan politik di India atau terjadi perang, oleh karena itu para ksatria yang kalah melarikan diri ke Indonesia. Lalu mereka mendirikan kerajaan-kerajaan dan menyebarkan agama Hindu.
¨      Teori Brahmana: Persebaran agama Hindu dilakukan oleh kaum Brahmana.kedatangan mereka untuk memenuhi undangan kepala suku yang tertarik pada agama hindu. Dan kaum brahmana lah yang menyebarkan agama Hindu.
Dari keempat teori tersebut, teori Brahmana lah yang dianggap paling benar, Karena terdapat berbagi bukti:
·         Agama Hindu bukan agama yang demokratis,penyebaran agama menjadi monopoli kaum brahmana. Sehingga hanya kaum brahmana yang berhak menyebarkan dan menyiarkan agama Hindu.
·         Prasati yang ditemukan di Indonesia berbahasa sanksekerta. Di India bahasa tersebut digunakan dalam kitab suci dan upacara keagamaan. Jadi hanya kaum brahmana yang memahami bahasa tersebut.



B.     Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia
1.    Kerajaan Kutai
a.       Lokasi
Kutai Martadipura adalah kerajaan bercorak Hindu di Nusantara yang memiliki bukti sejarah tertua. Berdiri sekitar abad ke-4. Kerajaan ini terletak diMuara KamanKalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam.
b.      Penamaan
Nama Kutai diberikan oleh para ahli mengambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut. Tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini dan memang sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh.
c.       Sejarah
Informasi yang ada diperoleh dari Yupa / prasasti dalam upacara pengorbanan yang berasal dari abad ke-4. Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai. Yupa adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tugu peringatan yang dibuat oleh para brahman atas kedermawanan raja Mulawarman. Dalam agama hindu sapi tidak disembelih seperti kurban yang dilakukan umat islam. Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.
            Berikut adalah tulisan yang terdapat dalamprasati Yupa
śrīmatah śrī-narendrasya; kuṇḍuṅgasya mahātmanaḥ; putro śvavarmmo vikhyātah; vaṅśakarttā yathāṅśumān; tasya putrā mahātmānaḥ; trayas traya ivāgnayaḥ; teṣān trayāṇām pravaraḥ; tapo-bala-damānvitaḥ; śrī mūlavarmmā rājendro; yaṣṭvā bahusuvarṇnakam; tasya yajñasya yūpo ‘yam; dvijendrais samprakalpitaḥ.
Artinya:
Sang Mahārāja Kundungga, yang amat mulia, mempunyai putra yang mashur, Sang Aśwawarmman namanya, yang seperti Angśuman (dewa Matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aśwawarmman mempunyai putra tiga, seperti api (yang suci). Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah Sang Mūlawarmman, raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Sang Mūlawarmman telah mengadakan kenduri (selamatan yang dinamakan) emas-amat-banyak. Untuk peringatan kenduri (selamatan) itulah tugu batu ini didirikan oleh para brahmana.
d.        Raja-Raja yang terkenal saat memerintah Kerajaan Kutai
1.      Kudungga
Kudungga adalah ayah dari Aswawarman. Kudungga berasal dari Kerajaan Campa di Kamboja yang datang ke Indonesia, namun Kudungga sendiri belum menganut agam Budha
2.      Aswawarman
Aswawarman adalah Anak Raja Kudungga.Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yang artinya pembentuk keluarga. Aswawarman memiliki 3 orang putera, dan salah satunya adalah Mulawarman.
3.      Mulawarman
Mulawarman adalah anak dari Aswawarman dan cucu Kudungga. . Dari yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur.
b.       Berakhir
Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang saat itu ibukota di Kutai Lama (Tanjung Kute).
Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam. Sejak tahun 1735 kerajaan Kutai Kartanegara yang semula rajanya bergelar Pangeran berubah menjadi bergelar Sultan (Sultan Aji Muhammad Idris) dan hingga sekarang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara.
Nama-Nama Raja Kutai
·       Maharaja Kudungga, gelar anumerta Dewawarman (pendiri)
·       Maharaja Aswawarman (anak Kundungga)
·       Maharaja Mulawarman (anak Aswawarman)
·       Maharaja Marawijaya Warman
·       Maharaja Gajayana Warman
·       Maharaja Tungga Warman
·       Maharaja Jayanaga Warman
·       Maharaja Nalasinga Warman
·       Maharaja Nala Parana Tungga
·       Maharaja Gadingga Warman Dewa
·       Maharaja Indra Warman Dewa
·       Maharaja Sangga Warman Dewa
·       Maharaja Candrawarman
·       Maharaja Sri Langka Dewa
·       Maharaja Guna Parana Dewa
·       Maharaja Wijaya Warman
·       Maharaja Sri Aji Dewa
·       Maharaja Mulia Putera
·       Maharaja Nala Pandita
·       Maharaja Indra Paruta Dewa
·       Maharaja Dharma Setia
1.    Kerajaan Tarumanegara
A.    Lokasi Kerajaan
Terletak di wilayah Jawa Barat,dengan pusat di sekitar daerah Bogor. Wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara meliputi: daerah Banten, Jakarta, sampai perbatasan Cirebon. Jadi dapat diperkirakan, pada saat pemerintahan Raja Purnawarman wilayah Kerajaan Tarumanegara hamper menguasai seluruh wilayah Jawa Barat.
B.     Sumber Sejarah
a.       Berita Asing
Berita Cina dari zaman Dinasti T’ang menyebutkan bahwa seorang pendeta bernama Fa-Hien terdampar di Pantai Utara Pulau Jawa ketika ia hendak kembali ke Cina dari India. Dalam catatan perjalanannya dia menyebutkan daerah pantai utara pulau jawa bagian barat telah mendapat pengaruh agama Hindu, dan diduga itu adalah wilayah Kerajaan Tarumanegara.
b.      Sumber Sejarah
Sumber sejarah Kerajaan Tarumanegara berasal dari prasasti atau sumber asing. Prasati yang menceritakan tentang Kerajaan Tarumanegara adalah: Prasasti Ciaruteun (Ciampea Bogor), Prasati Kebon Kopi (Bogor), Prasasti Jambu (Bogor), Prasasti Muara Cianten (Bogor), Prasasti Tugu (Jakarta Utara), Prasasti Pasir Awi (Leuwiliang), Prasasti Munjul (Banten).
Prasasti tersebut menggunakan huruf pallawa dan bahasa sanksekerta, dalam penulisan prasasti tersebut tidak ada penulisan tahun. Untuk menentukan tahun pembuatannya, maka para sejarawan membandingkan tulisan prasasti tersebut dengan prasasti Inidia. Dari perbandingan tersebut prasasti itu dibuat pada abad ke-5 Masehi.
C.     Kehidupan Politik
Berdasarkan sumber dari prasasti yang ditemukan raja dari Kerajaan Tarumanegara hanyalah Raja Purnawarman. Hal ini karena tidak adanya sumber yang menyatakan raja sebelum atau sesudah Raja Purnawarman



2.    Kerajaan Holing
a.       Lokasi kerajaan
Letak kerajaan Holing hingga kini belum dapat diketahui dengan pasti. Beberapa pendapat yang menyatakan letak kerajaan Holing:
1.      Menurut berita Cina: berita Cina yang berasal dari Dinasti T’ang menyebutkan bahwa letak Kerajaan Holing berbatasan dengan laut sebelah selatan, Ta-Hen-La (Kamboja) di sebelah utara, Po-Li (Bali) sebelah timur, dan To-Po-Teng di sebelah barat. Nama lain dari Holing adalah Cho-Po (Jawa), sehingga dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Holing terletak di Pulau Jawa, tepatnya Jawa Tengah
2.      Menurut J.L. Moens menentukan letak Kerajaan Holing meninjau dari segi perekonomian, yaitu pelayaran dan perdagangan. Menurutnya, Kerajaan Holing selayaknya terletak di tepi selat Malaka, yaitu semenanjung Malaka. Alasannya, selat Malaka merupakan selat yang sangat ramai dalam aktivitas pelayaran perdagangan saat itu. Pendapat J.L. Moens diperkuat dengan ditemukannya suatu daerah di semenanjung  Malaya bernama daerah Keling
b.      Sumber sejarah
Satu-satunya sumber sejarah yang menyatakan tentang kerajaan Holing adalah berita dari Cina. Berita ini datang dari pendeta I-tsing yang menyebutkan bahwa seorang temannya bernama Hui-Ning dengan pembantunya bernama Yunki pergi ke Holing tahun 664/665 M untuk mempelajari agama Budha. Ia juga menerjemahkan kitab suci agama Budha dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina dengan dibantu oleh pendeta agama Budha dari Holing bernama Janabhadra. Menurut keterangan dari Dinasti Sung, kitab yang diterjemahkan oleh Hui-Ning adalah bagian terakhir dari kitab Varinirvana yang mengisahkan tentang pembukaan jenazah Sang Budha.
Disamping itu, diberitakan bahwa kerajaan Holing telah beberapa kali mengirim utusan ke Cina. Dari berita itu, dikatakan bahwa kerajaan Holing telah menjalin hubungan yang sangat luas, walaupun secara politis kedudukannya tidak tinggi
c.       Kehidupan politik
Berdasarkan berita Cina disebutkan bahwa kerajaan Holing diperintah oleh seorang raja putri bernama Ratu Sima. Pemerintahan Ratu Sima sangat keras tetapi adil dan bijaksana. Rakyat tunduk dan taat dengan segala perintah Ratu Sima. Tidak seorangpun rakyat atau pejabat kerajaan yang berani melanggar segala perintahnya

4.      Kerajaan melayu
Kerajaan ini bercorak agama Budha di Sumatera. Kerajaan ini dapat digolongkan menjadi kerjaan tertua di Inonesia, karena kerajaan ini mempunyai kedudukan yang istimewa dalam perkembangan sejarah Indonesia. Kerajaan ini diperkirakan berpusat di daerah Jambi yaitu di kanan kiri Sungai Batanghari. Pada sungai ini ditemukan peninggalan purba seperti candi, arca, dll.
·         Sumber Sejarah
Berita tentang kerajaan Melayu antara lain diketahui dari dua buah buku karya Pendeta I Tsing atau I Ching (義淨; pinyin Yì Jìng) (634-713), yang termasyhur yaitu Nan-hai Chi-kuei Nei-fa Chuan (Catatan Ajaran Buddha yang dikirimkan dari Laut Selatan) serta Ta-T’ang Hsi-yu Ch’iu-fa Kao-seng Chuan (Catatan Pendeta-pendeta yang menuntut ilmu di India zaman Dinasti Tang)[5] dalam pelayarannya dari Cina ke India tahun 671, singgah di Sriwijaya enam bulan lamanya untuk mempelajari Sabdawidya, dan menerjemahkan naskah-naskah Buddha dari bahasa Sanskerta ke bahasa Tionghoa.
Kisah pelayaran I-tsing dari Kanton tahun 671 diceritakannya sendiri, dengan terjemahan sebagai berikut
“Ketika angin timur laut mulai bertiup, kami berlayar meninggalkan Kanton menuju selatan .... Setelah lebih kurang dua puluh hari berlayar, kami sampai di negeri Sriwijaya. Di sana saya berdiam selama enam bulan untuk belajar Sabdawidya. Sri Baginda sangat baik kepada saya. Beliau menolong mengirimkan saya ke negeri Malayu, di mana saya singgah selama dua bulan. Kemudian saya kembali meneruskan pelayaran ke Kedah .... Berlayar dari Kedah menuju utara lebih dari sepuluh hari, kami sampai di Kepulauan Orang Telanjang (Nikobar) .... Dari sini berlayar ke arah barat laut selama setengah bulan, lalu kami sampai di Tamralipti (pantai timur India)”
Perjalanan pulang dari India tahun 685 diceritakan oleh I-tsing sebagai berikut
“Tamralipti adalah tempat kami naik kapal jika akan kembali ke Cina. Berlayar dari sini menuju tenggara, dalam dua bulan kami sampai di Kedah. Tempat ini sekarang menjadi kepunyaan Sriwijaya. Saat kapal tiba adalah bulan pertama atau kedua .... Kami tinggal di Kedah sampai musim dingin, lalu naik kapal ke arah selatan. Setelah kira-kira sebulan, kami sampai di negeri Malayu, yang sekarang menjadi bagian Sriwijaya. Kapal-kapal umumnya juga tiba pada bulan pertama atau kedua. Kapal-kapal itu senantiasa tinggal di Malayu sampai pertengahan musim panas, lalu mereka berlayar ke arah utara, dan mencapai Kanton dalam waktu sebulan.”
Tahun
Nama Raja atau Gelar
Ibukota
Prasasti, catatan pengiriman utusan ke Tiongkok serta peristiwa
671
Berita China, catatan perjalanan I-tsing (634-713). Dan Prasasti Kedukan Bukit tahun 682, penaklukan Minanga oleh Sriwijaya.
682-1156
Dibawah kekuasaan Sriwijaya
1157-1182
Belum ada berita
1183
Prasasti Grahi tahun 1183 di selatan Thailand, perintah kepada bupati Grahi yang bernama Mahasenapati Galanai supaya membuat arca Buddha seberat 1 bhara 2 tula dengan nilai emas 10 tamlin.
1184-1285
Belum ada berita
1286
Dharmasraya
Prasasti Padang Roco tahun 1286 di Siguntur (Kabupaten Dharmasraya sekarang), pengiriman Arca Amonghapasa sebagai hadiah Raja Singhasari kepada Raja Malayu.
1316
Dharmasraya atau Suruaso
Prasasti Suruaso (Kab. Tanah Datar sekarang).
1347
Suruaso atau Pagaruyung
Arca Amoghapasa,tahun 1347 di (Kab. Dharmasraya sekarang),
Pindah ke Suruaso, Prasasti Suruaso (Kabupaten Tanah Datar sekarang), Pengiriman utusan ke Cina sebanyak 6 kali dalam rentang waktu 1371 sampai 1377 pada masa Dinasti Ming.
1375
Pagaruyung
Prasasti Batusangkar (Kab. Tanah Datar sekarang).
·         Penaklukan Kerajaan Melayu
Prasasti Kedukan Bukit menguraikan jayasiddhayatra (perjalanan jaya) dari penguasa Kerajaan Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang (Yang Dipertuan Hyang). Oleh karena Dapunta Hyang membawa puluhan ribu tentara lengkap dengan perbekalan, sudah tentu perjalanan itu adalah ekspedisi militer menaklukkan suatu daerah. Dari prasasti Kedukan Bukit, didapatkan data-data :
  1. Dapunta Hyang naik perahu tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682).
  2. Dapunta Hyang berangkat dari Minanga tanggal 7 Jesta (19 Mei) dengan membawa lebih dari 20.000 balatentara. Rombongan lalu tiba di Muka Upang.
Jadi, penaklukan Malayu oleh Sriwijaya terjadi pada tahun 682. Pendapat ini sesuai dengan catatan I Tsing bahwa, pada saat berangkat menuju India tahun 671, Melayu masih menjadi kerajaan merdeka, sedangkan ketika kembali tahun 685, negeri itu telah dikuasai oleh Shih-li-fo-shih.
Pelabuhan Malayu merupakan penguasa lalu lintas Selat Malaka saat itu. Dengan direbutnya Minanga, secara otomatis pelabuhan pun jatuh ke tangan Kerajaan Sriwijaya. Maka sejak tahun 682 penguasa lalu lintas dan perdagangan Selat Malaka digantikan oleh kerajaan Melayu Sriwijaya


1.      Kerajaan Sriwijaya
a.       Hierarki Kerajaan Sriwijaya
Nama Sriwijaya di ambil dari Bahasa Sanksekerta. Sri berarti gemilang dan wijaya berarti kejayaan. Maka makna nama Sriwijaya adalah kejayaan yang gimelang. Tidak ada yang tahu pasti kapan awal berkembangnya Kerajaan Sriwijaya, namun diperkirakan sekitar abad ke-7 M
b.      Lokasi kerajaan
Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan besar yang bukan saja dikenal di wilayah Indonesia tetapi dikenal di setiap bangsa dan negara yang berada jauh di luar Indonesia. Selain itu Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan maritim,. Hal ini disebabkan letak Kerajaan Sriwijaya yang sangat strategis dan dekat dengan Selat Malaka. Selat Malaka pada saat itu merupakan jalur perdagangan yang sangat ramai dan dapat menghubungkan antara pedagang-pedagang dari Cina dengan India maupun Romawi.
Dari tepian sungai Musi di Sumatra Selatan, pengaruh Kerajaan Sriwijaya terus meluas yang mencakup Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Bangka, Laut Jawa bagian Barat, Bangka, Jambi Hulu, dan mungkin juga Jawa Barat (Tarumanegara), Semenanjung Malaya hingga ke Tanah Genting Kra. Luasnya wilayah laut dikuasai Kerajaan Sriwijaya menjadikan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim yang besar pada zamannya.
c.       Sumber sejarah
§  Berita Asing
Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan maritime, sehingga ditemukan banyak pedagang dari luar negeri, dan dari itulah kabar Kerajaan Srwijaya did pat dari berbagai negeri, yaitu:
1.      Berita Arab
Banyak pedagang yang datang di kerajaan Sriwijaya dan bermukim untuk sementara waktu di pusat Kerajaan Srwijaya. Bukti yang lain adalah adanya sebutan kerajaan Sriwijaya bagi orang arab yaitu: Zabaq, Sabay, dan Sribusa.
2.      Berita India
Raja-raja Sriwijaya pernah menjalin hubungan dengan kerajaan di India seperti Kerajaan Nalanda dan Kerajaan Chola.
Hubungan dengan Kerajaan Nalanda disebutkan dalam Prasasti Nalanda, yang berbunyi Raja Nalanda yang bernama Raja Dewa Paladewa berkenan membebaskan 5 desa dari pajak, namun harus membiayai para mahasiswa Kerajaan Sriwijaya yang menuntut ilmu di Kerajaan Nalanda.
Dengan Kerajaan Chola (Cholamandala), hubungan dengan Kerajaan ini menjadi retak, karena Raja Rajenda Chola ingin menguasai Selat Malaka.
3.      Berita Cina
Diperoleh dari Itsing seorang pendeta Cina. Menurutnya di Kerajaan Sriwijaya terdapat 1000 pendeta yang menguasai agama seperti di India. Selain itu ada juga berita dari Dinasti Sung yang menceritakan adanya pengiriman utusan dari Kerajaan Sriwijaya pada tahun 971-992
§  Berita dalam Negeri
1.      Prasasti Kedukan Bukit
Ditemukan di Kedukan Bukit di tepi Sunagi Talang di dekat Palembang. Prasati tersebut berangka 684 Masehi. Menyebutkan Raja yang bernama Dapunta Hyang membawa 20.000 tentara dan berhasil menundukkan Minangtamwan.
2.      Prasasti Telaga Batu
Berisi Kutukan Raja terhadap rakyat yang tidak patuh dan berbuat kejahatan. Prasasti ini dibuat tahun 683 M
3.      Prasasti Talang Tuwo
Pembuatan taman Srikesetra oleh Raja Dapunta Hyang.
4.      Prasasti Kota Kapur
Berangka tahun 686 M. berisi Kerajaan Sriwijaya berusaha untuk menaklukan tanah jawa yang tidak patuh kepada Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini ditemukan di Pulau Bangka.
5.      Prasasti Ligor
Tertulis angka 775 M. menyebutkan ibukota Ligor bertujuan untuk mengawai pelayaran dan perdagangan di Selat Malaka.
6.      Prasasti Sidhayarta
Prasasti ini menggunakan huruf nagari. Dilihat dari masa perkembangannya di Indonesia, menurut hasil penelitian para ahli tulisan-tulisan pada prasasti siddhayatra diperkirakan berasal dari sekitar abad ke VII-VIII AD, atau sejaman dengan saat berkembangnya kerajaan Sriwijaya.
d.      Kehidupan Politik.
Raja-raja Kerajaan Sriwijaya yang diketahui sebagai berikut:
1.      Raja Dapunta Hyang
Berita tentang raja ini diketahui dari prasasti  kedukan bukit (683 M). pada masa pemerintahannya raja ini sudah mampu memeperluas wilayah kekuasaannya sampai Jambi yaitu menduduki wilayah Minangatamwan. Sejak saat itu raja Dapunta hyang bercita-cita agar kerajaan ini menjadi kerajaan maritime.
2.      Raja Balaputra Dewa
Pada awalnya Balaputra Dewa adalah raja di kerajaan Syailendra (Jawa Tengah). Namun terjadi perang saudara antara Balaputra Dewa dengan Pramodhawardani yang dibantu oleh Rakai Pikatan, namun dia kalah, kemudian ia lari ke Kerajaan Sriwijaya dan disambut baik oleh Raja DharmaSetu yang merupakan kakak dari ibunya. Akhirnya beliau diangkat menjadi Raja Kerajaan Sriwijaya.
Saat pemerintahan Raja Balaputra Dewa Kerajaan Sriwijaya mengalami kemajuan pesat, terutama di bidang pelayaran dan perdagangan. Balaputra Dewa menjalin hubungan dagang dengan Kerajaan Nalanda dan Chola. Disamping itu Sriwijaya juga menjadi pusat persebaran agama Budha di Asia Tengga.
3.      Raja Sanggrama Wijayatunggawarman
Pada pemerintahannya, Kerajaan Sriwijaya memperoleh ancaman dari Kerajaan Chola. Kerajaan Chola menyerang dan berhasil merebut Kerajaan Sriwijaya. Raja Sanggrama ditawan, namun pada masa pemerintahan Raja Kulotungga 1 di Kerajaan Chola Raja Sanggrama Wijayatunggawarman dibebaskan kembali.
e.       Hubungan Luar Negeri
Sriwijaya mempunyai hubungan yang baik dengan Negara-negara di luar negeri, terutamanya pada Negara-negara di India.
·         Sriwijaya dan Pala
Sekitar abad ke-8M hingga abad ke-11 M derah Benggala diperintah oleh raja-raja dari Dinasti Pala. Seorang rajanya yang terbesar bernama Raja Paladewa (abad ke-9 M)/ Hubungan Kerajaan Sriwijaya dengan Kerajaan Pala sangat baik terutama pada bidang kebudayaan dan agama.. kedua kerajaan ini menganut agama budha. Banyak biksu dari Sriwijaya belajar agama di Kerajaaan Nalada. Hubungan baik ini dibuktikan dengan adanya prasasti nalanda. Prasasti ini juga menceritakan raja Balaputra Dewa yang terusir dari kerajaannya dan menjadi raja Kerajaan Sriwijaya.. demikian hubungan ini untuk memperkuat kedudukannya di Sriwijaya dan untuk memperoleh dukungan dari Kerajaan Nalanda.
·         Sriwijaya dan Cholamandala
Pada awalnya hubungan kedua kerajaan ini sangat baik. Raja Wijayatunggawarman mendirikan Biara untuk tempat tinggal para biksu dari kerajaan Sriwijaya.
Persahabatan Kedua kerajaan ini berubah menjadi permusuhan akibat persaingan dalam bidang pelayaran dan perdagangan. Raja Chola melakukan serangan dua kali ke Kerajaan Sriwijaya. Serangan pertama gagal, namun  serangan kedua (1023/1024) mempu merebut kota dan Bandar-bandar penting di Kerajaan Sriwijaya, bahkan Raja Sriwijaya berhasil ditawan.
Serangan itu tidakmengakibatkan panjajahan, karena tujuannya hanya membinasakan armada Kerajaan Sriwijaya. Jika jaringan pelayaran Kerajaan Sriwijaya hancur, maka yang akan menguasai pelayaran di Asia Tenggara hanya Kerajaan Chola.
Walaupun serangan Kerajaan Chola tidak mematikan namun ini member kesempatan pada Airlangga untuk menyusun angkatan perang baik di darat maupun laut. Dalam waktu singkat keruntuhan Kerajaan Dharmawangsa sapat ditegakkan kembali. Jadi saat Kerajaan Sriwijaya pulih kembali mempunyai saingan yang sama besar.
f.       Mundurnya Kerajaan Sriwijaya
Pada akhir abad ke-13 M Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan oleh factor politik dan ekonomi.
1.      Faktor Politik
Kedudukan Kerajaan Sriwijaya yang semakin terdesak oleh munculnya kerajaan baru yang lebih besar dan sama-sama memiliki kebutuhan yang sama untuk perdagangan. Contohnya adalah dari sebelah utara, muncul Kerajaan Siam yang menguuasai kerajaan di Semenanjung Malaka termasuk daerah Tanah Genting Kra. Jatuhnya Tanah GEnting kara ke Kerajaan Siam menyebabkan perdagangan Keajaan Sriwijaya berkurang.
Dari sebelah timur, Kerajaan Sriwijaya terdesak oleh perkembangan Kerajaan Singasari yang berniat untuk menguasai Nusantara di bawah Kerajaan Singasari. Dan Kerajaan Singasari melakukan perluasan kearah barat yang disebut ekspedisi Pamalayu. Dalam ekspedisi ini Kerajaan Singasari melakukan pendudukan terhadap Kerajaan Pajang, Melayu, dan Kalimantan, sehingga kedudukan Kerajaan Sriwijaya semakin terdesak
2.      Faktor Ekonomi
Para pedagang yang melakukan aktivitas di Kerajaan Sriwijaya semakin berkurang, karena daerah-daerah strategis yang dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya dikuasai oleh kerajaan lain yang melakukan perluasan. Akibatnya, para pedagang yang melakukan penyebrangan ke Tanah genting Kra atau yang melakukan penyebrangan ke daerah Melayu (sudah dikuasai Kerajaan Singasari) tidak lagi melewati wilayah kekuaaan Sriwijaya. Keadaan ini tentu mengurangi sumber pendapatan kerajaan
Dan atas alas an factor ekonomi dan politik, amak Kerajaan Srwijaya menjadi kerajaan yang kecil dan hanya menguasai daerah Palembang. Dan pada tahun 1377 kerjaan tersebut dihancurkan oleh Kerajaan Majapahit


BAB III
PENUTUP
·         Simpulan
Tersebarnya agama Hindu-Budha secara tidak langsung menyebabkan tersebar pula system yang berlaku di India, dan memberikan perubahan pada masyarakat di Indonesia. Salah satunya adalah dengan munculnya beberapa  kerjaan yang bercorak Hindu-Budha.
Berikut adalah 5 kerajaan pertama bercorak Hindu-Budha yang terbentuk. 1. Kerajaan Kutai, kerajaan ini didrikan oleh Raja Kudungga. Raja terkenal dari kerajaan ini adalah Raja Mulawarman. 2. Kerajaan Tarumanegara, raja yang pernah memerinntah adalah Raja Purnawarman. Terletak di Jawa Barat dengan pusat kerajaan di sekitar Bogor. 3. Kerajaan Holing, kerajaan ini dipimpin oleh ratu yang sangat keras, tapi bijaksana dan adil, sehingga tidak ada rakyat yang berani  melawannya. 4. Kerajaan Melayu, kerajaan ini bercorak Budha. Tidak ada prasasti yang menjadi sumber sejarah kerajaan ini, melainkan melalui berita cina dari buku catatan itsing. 5. Kerajaan Sriwijaya, kerajaan ini didirikan oleh Raja Dapunta Hyang dan mencapai kejayaan pada saat pemerintahan Raja Balaputradew
·         Saran
Peninggalan sejarah zaman Hindu-Budha harus dilestarikan. Agar para generasi muda dapat mengetahui perkembangan Bangsa Indonesia. Selain itu juga agar sejarah Indonesia tidak dianggap hanya sebuah cerita, melainkan kenyataan karena adanya peningalan sejarah yang masih terawat dan nyata.


LAMPIRAN
a.       Kerajaan Kutai
1.      Lokasi Kerajaan Kutai
2.      Prasasti yupa
b.      Kerajaan Tarumanegara
1.      Lokasi penemuan prasasti
2.      Lokasi Kerajaan










3.      Prasasti Ciariteun
c.       Kerajaan Melayu
1.      Peninggalan Kerajaan Melayu
d.      Kerajaan Sriwijaya
1.      Lokasi





2.      Peninggalan Gapura Kerajaan Sriwijaya



DAFTAR PUSTAKA
Badrika.2006.Sejarah.Jakarta:PT. Gelora Aksara Pratama
Supriatna.2008.Sejarah.jakarta. Grafindo Media Pratama




Tidak ada komentar:

Posting Komentar